Pertanyaan :
Assalamu 'Alaikum Wr. Wb.
Bagaimanakah hukumnya melelang(jual) kayu jati masjid yang di renovasi, kemudian uangnya di gunakan untuk keperluan renovasi masjid kembali?Makasih.
Jawaban :
Wa'alaikum Salam Wr. Wb.
Jawaban :
Wa'alaikum Salam Wr. Wb.
Harta masjid dari waqof, tidak diperbolehkan untuk dijual belikan atau dilelang dalam keadaan apapun selama masih memungkinkan untuk dimanfaatkan kembali. Namun jika sangat rusak sehingga tidak memungkinkan atau sulit untuk dimanfaatkan kembali, maka boleh dijual dan uang hasil penjualan dikembalikan ke masjid. Jika harta masjid bukan dari waqaf, maka boleh dijual oleh nadzir untuk imaroh masjid.
Menurut syekh Abdullah bin Umar Ba Makhramah, jika ada prasangka harta waqaf akan hilang atau dirampas oleh orang dholim apabila tidak dijual, maka boleh bahkan wajib untuk menjualnya.
حاشية اعانة الطالبين للسيد جزء 3 ص 181
ولايعمر به غير جنسه كرباط وبـئر كالعكس الا اذا تعذر جنسه ( قوله ولا يعمر به غير جنسه ) اى ولا يعمر بالنقض ما هو من غير جنس المسجد وقوله كالرباط وبئر تمثيل لغير جنس المسجد وقوله كالعكس هوان لا يعمر بنقض الرباط والبئر غير الجنس كالمسجد ( قوله الا اذا تعذر ) أي فانه يعمر به غير الجنس اهـ
“Dan tidaklah diperbolehkan menggunakan bahan-bahan yang tersisa dari pembangunan/perbaikan masjid untuk dipakai (dalam pembangunan) selain masjid, seperti pesantren, sumur dll, begitu pula sebaliknya ( sisa pembangunan pesantren dipakai untuk masjid). Kecuali ada faktor udzur, maka diperbolehkan penggunaan sisa bangunan di atas untuk digunakan pada selain jenis”.
هامش الشرواني جزء 6 ًص 282
( وَالْأَصَح ُّ جَوَازُ بَيْعِ حُصْرِ الْمَسْجِد ِ إذَا بَلِيَتْ وَجُذُوعِه ِ إذَا انْكَسَرَت ْ ) ، أَوْ أَشْرَفَتْ عَلَى الِانْكِسَ ارِ ( وَلَمْ تَصْلُحْ إلَّا لِلْإِحْرَ اقِ ) لِئَلَّا تَضِيعَ فَتَحْصِيل ُ يَسِيرٍ مِنْ ثَمَنِهَا يَعُودُ عَلَى الْوَقْفِ أَوْلَى مِنْ ضَيَاعِهَا وَاسْتُثْن ِيَتْ مِنْ بَيْعِ الْوَقْفِ ؛ لِأَنَّهَا صَارَتْ كَالْمَعْد ُومَةِ وَيُصْرَفُ ثَمَنُهَا لِمَصَالِح ِ الْمَسْجِد ِ... الى ان قال... وَالْخِلَا فُ فِي الْمَوْقُو فَةِ وَلَوْ بِأَنْ اشْتَرَاهَ ا النَّاظِرُ وَوَقَفَهَ ا بِخِلَافِ الْمَمْلُو كَةِ لِلْمَسْجِ دِ بِنَحْوِ شِرَاءِ فَإِنَّهَا تُبَاعُ جَزْمًا .
( وَالْأَصَح
“Menurut pendapat ‘Ashoh’ adalah diperboleh kannya menjual karpet-kar pet milik masjid jika bendanya telah rusak, robek atau hampir robek dan tidak layak kecuali untuk dibakar. Agar tidak sia-sia begitu saja, maka mendapatka n sedikit pemasukan (dari penjualan diatas) yang dimasukkan (ke dalam kas) wakaf, tentu lebih baik. Dan hal ini dikecualik an dari (larangan) penjualan benda wakaf, karena dihukumi seolah tidak ada, dan keuntunaga nnya dialokasik an untuk kepentinga n masjid…. Dan khilaf Ulama terjadi pada benda-bend a yang diwakafkan , meskipun telah dibeli oleh pihak yang menanganin ya (Nadzir) lalu mewakafkan nya. Berbeda halnya dengan infentaris ir milik masjid yang diperoleh dengan cara membeli, maka sudah pasti boleh dijual kembali”.
غاية التلخيص المراد من فتاوي ابن زياد ص 259
(مسئلة) اوقاف المساجد والابار والرباط المسبلة اذا تعذر صرف متوجهاتها اليها على ما شرطه الواقف لخراب المساجد والعمران عندها يتولى الحاكم امر ذالك وفي صرفه خمسة اوجه احدها قاله الرويانى والموردي والبلقينى يصرف الى الفقراء والمساكن الثاني حكاه الحفاظى وقاله الماوردى ايضا انه كمنقطع الاخر الثالث حكاه الحفاظى ايضا يصرف الى المصالح الرابع قاله الامام وابن عجيل يحفظ لتوقع عوده الخامس وهو المعتمد وجرى عليه فى الانوار والجواهر وزكريا انه يصرف الى مثلها المسجد الى المسجد الخ.. والقريب اولى وعليه يحمل قول المتولى لأقرب المساجد
“(Masalah) Benda-bend a wakaf milik masjid, sumur dan pesantren apabila ada kendala dalam mengalokas ikan aset-asetn ya sesuai dengan apa yang disyaratka n oleh pihak yang memberi wakaf, -karena masjid telah rata dengan tanah atau karena perkampung annya telah tak berpenghun i-, maka hakim (pihak yang berwenang) harus turun tangan menangani hal diatas. Dan dalam pengalokas iannya ada 5 cara.
(1) Pendapat Ruyani, Mawardi dan Bulqini : Aset-aset itu diberikan pada fakir-misk in.
(2) Dalam pandangan Huffadzi dan Mawardi : Permasalah an diatas sama dengan wakaf Munqoti’ Akhir.
(3) Menurut Huffadzi pula : Digunakan untuk kemaslahat an
(4) Imam Haramain dan Ibn Ujail berpendapa t : Disimpan dulu, untuk membangun kembali masjid yang telah hancur. Dan wajh yang ke
(5) adalah pendapat yang mu’tamad, yang dipaparkan (oleh Yusuf Ardabili) dalam kitab Al Anwar-nya dan Al Jawahir dan Syaikh Zakariya Al Anshori bahwa aset-aset itu digunakan untuk pembanguna n yang sama, dari satu masjid ke masjid lainnya…da n yang utama adalah untuk masjid yang terdekat. Kesinilah pendapat Al Mutawalli diarahkan” .