AMIL ZAKAT, PENERIMA ZAKAT, & ZAKAT FITRAH
1. AMIL ZAKAT
Ada beberapa cara penyaluran zakat yang dilakukan oleh para hartawan dan dermawan di masyarakat kita, baik dengan penyaluran sendiri ke para mustahiq zakat atau melalui lembaga-lembaga tertentu yang menawarkan jasa sebagai penyalur dan pengelola harta zakat, di antaranya seperti BAZIS dan lembaga swasta yang disebut Rumah Zakat. Rumah Zakat Indonesia merupakan Organisasi Pengelola Zakat terbesar pengumpulan donasinya se-Indonesia, sehingga pada tahun 2009 hasil pengumpulan dana zakatnya mencapai 107,3 milyar rupiah.
Pertanyaan:
a. Siapa saja yang bisa mengangkat Amil sebagai petugas penyalur Zakat?
b. Adakah batasan bagian bagi Amil yang telah disahkan di dalam harta zakat tersebut?
c. Bagaimana hukumnya Amil mengelola harta Zakat dengan maksud agar lebih bermanfaat?
Jawaban:
a. Yang bisa menunjuk dan mengangkat amil (petugas) zakat adalah pemerintah setempat.
اَلْمَوْسُوْعَةُ الْفِقْهِيَّةُ اْلكُوَيْتِيَّةُ: 2/ 10543
اَلْعَامِلُ عَلَى الزَّكَاةِ هُوَ الْمُتَوَلِّي عَلَى الصَّدَقَةِ وَالسَّاعِيْ لِجَمْعِهَا مِنْ أَرْبَابِ الْمَالِ، وَالْمُفَرِّقُ عَلَى أَصْنَافِهَا إِذَا فَوَّضَهُ اْلإِمَامُ بِذَلِكَ .
Kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiah, Juz II, hlm 10543:
“Amil zakat adalah : orang yang mengatur zakat dan mengumpulkannya dari pemilik harta, serta membagikannya pada golongan penerima zakat, hal tersebut apabila dia (amil) diangkat oleh pemerintah untuk mengurusi hal tersebut diatas.”
فِقْهُ السُّنَّةِ: 1/ 386
اَلْعَامِلُوْنَ عَلَى الزَّكَاةِ، وَهُمُ الَّذِيْنَ يُوَلِّيْهِمُ اْلاِمَامُ أَوْ نَائِبُهُ اْلعَمَلَ عَلَى جَمْعِهَا مِنَ اْلاَغْنِيَاءِ. وَهُمُ الْجُبَاةُ، وَيَدْخُلُ فِيْهِمُ الْحَفَظَةُ لَهَا، وَالرُّعَاةُ لِلْاَنْعَامِ مِنْهَا، وَاْلكَتَبَةُ لِدِيْوَانِهَا.
Kitab Fiqh as-Sunnah, Juz I, hlm 386:
“Amil-amil zakat adalah : mereka yang diberi kekuasaan (mandat) dari permerintah atau wakilnya untuk mengerjakan pengumpulan zakat dari orang-orang kaya …….. termasuk amil adalah orang-orang yang menjaga harta zakat, pengembala binatang ternaknya zakat dan orang-orang yang mencatat pada pembukuan zakat.”
b. Batasan bagian yang diberikan kepada amil adalah ujroh al-mitsl, yaitu sebesar ongkos/upah yang berlaku di wilayah setempat.
شَرْحُ الْبَهْجَةِ الوردية: 14/ 81
(الثَّالِثُ الْعَامِلُ فِيهَا ) أَيْ فِي الزَّكَاةِ وَإِنْ كَانَ غَنِيًّا ( الْأَجْرُ لَهْ ) أَيْ لَهُ أُجْرَةُ الْمِثْلِ دُونَ السَّهْمِ ؛ لِأَنَّ اسْتِحْقَاقَهُ بِالْعَمَلِ ….. فَإِنْ كَانَ سَمَّى لَهُ أَكْثَرَ مِنْ أُجْرَةِ الْمِثْلِ بَطَلَتْ التَّسْمِيَةُ وَاسْتَحَقَّ أُجْرَةَ الْمِثْلِ.
Kitab Syarh al-Bahjah al-Wardiah, Juz 14, hlm 81:
“Yang ketiga adalah Amil zakat walaupun kaya, dia mendapatkan upah yang sepadan dengan pekerjaannya, tidak mendapatkan bagian pasti karena haknya didapatkan sebab bekerja. Dan apabila bagiannya ditentukan melebihi ujroh al-mitsli, maka tidak dibenarkan dan dia hanya berhak mendapatkan upah sepadan.”
c. Tidak boleh, apabila tidak mendapat izin dari mustahiq (orang yang berhak atas bagian) zakat tersebut.
اَلْمَجْمُوْعُ شَرْحُ الْمُهَذَّبِ: 6/178
قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى, وَلاَ يَجُوْزُ لِلسَّاعِيْ وَلاَ لِلْاِمَامِ اَنْ يَتَصَرَّفَ فِيْمَا يَحْصُلُ عِنْدَهُ مِنَ الْفَرَائِضِ حَتىَّ يُوْصِلَهَا اِلَى أَهْلِهَا ِلاَنَّ اْلفُقَرَاءَ اَهْلُ رُشْدٍ لاَ يُوَلىَّ عَلَيْهِمْ فَلاَ يَجُوْزُ التَّصَرُّفُ فِي مَالِهِمْ بِغَيْرِ اِذْنِهِمْ.
Kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Juz 6, hlm 178:
“Kyai pengarang berkata tidak diperbolehkan bagi pengurus zakat atau pemerintah untuk mengelola sesuatu yang terkumpul dari beberapa harta benda yang wajib sehingga menyerahkannya pada pemiliknya, karena orang fakir adalah orang yang cakap dalam mengelola harta maka tidak boleh mengelola hartanya tanpa izin dari mereka.”
2. ASHNAF (GOLONGAN) PENERIMA ZAKAT
a. Bagaimana batasan atau kriteria-kriteria sehingga seseorang dikategorikan sebagai faqir dan miskin yang berhak menerima zakat?
b. Adakah ketentuan bagi seorang muallaf di dalam lamanya ia memeluk agama Islam (terhitung sejak ia bersyahadah masuk agama Islam), sehingga ia dikategorikan sebagai orang yang berhak menerima zakat?
c. Di dalam penyaluran zakat, salah satu kelompok yang berhak menerimanya adalah golongan fi sabilillah atau sabilil khoir yang pada masa sekarang termasuk di dalamnya adalah para guru TPA, Khotib, Imam dsb. Bagaimana hukumnya jika mereka menerima bagian zakat, sedangkan mereka sudah menerima tunjangan/gaji dari pemerintah setempat/yayasan terkait?
Jawaban:
a. Fakir adalah orang yang tidak memiliki kecukupan harta untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan juga tidak memiliki pekerjaan. Termasuk kategori fakir ialah orang yang mempunyai harta dan pekerjaan tetapi semuanya masih dibawah 50% dari kebutuhan hidup dirinya dan keluarga yang wajib ia nafkahi. Jika harta yang dimiliki dan penghasilan dari pekerjaannya sudah mencapai di atas 50% dari kadar kebutuhannya yang layak tetapi masih tidak mencukupi, maka ia tergolong miskin. Untuk batasan kecukupan seseorang yang memiliki pekerjaan adalah tercukupinya kebutuhan sehari-hari. Sedangkan bagi orang yang tidak memiliki pekerjaan (seperti orang lumpuh) adalah tercukupinya kebutuhan seumur hidup (dengan ukuran usia rata-rata manusia/62 tahun).
اَلْفِقْهُ اْلاِسْلاَمِيّ وَأَدِلَّتُهُ: 3 /1952
فَالْفَقِيْرُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ... ، هُوَ مَنْ لاَ مَالَ لَهُ وَلاَ كَسْبَ اَصْلاً، اَوْكَانَ يَمْلِكُ اَوْ يَكْتَسِبُ أَقَلَّ مِنْ نِصْفِ مَا يَكْفِيْهِ لِنَفْسِهِ وَمَنْ تَجِبُ عَلَيْهِ نَفَقَتُهُ (مَمُوْنُهُ) مِنْ غَيْرِ اِسْرَافٍ وَلاَ تَقْتِيْرٍ. وَالْمِسْكِيْنُ: هُوَ مَنْ يَمْلِكُ اَوْ يَكْتَسِبُ نِصْفَ مَا يَحْتَاجُهُ فَاَكْثَرَ، وَلَكِنْ لاَيَصِلُ اِلَى قَدْرِ كِفَايَتِهِ. وَالْمُرَادُ بِالْكِفَايَةِ فِى حَقِّ اْلمُكْتَسِبِ: كِفَايَةُ يَوْمٍ بِيَوْمٍ، وَفِى حَقِّ غَيْرِهِ: مَا يَبْقَى مِنْ عُمْرِهِ الْغَالِبِ وَهُوَ اِثْنَانِ وَسِتُّوْنَ سَنَةً.
Kitab Al-Fiqh Al-Islamiy Wa Adillatuhu, Juz 3, hlm 1952:
“Menurut Syafi’iyah dan Hanabilah Faqir adalah orang yang tidak memiliki harta benda dan pekerjaan sama sekali, atau memiliki harta atau pekerjaan namun penghasilannya tidak sampai separuh dari kecukupannya dan kecukupan orang yang harus ia nafkahi dengan tidak boros dan tidak terlalu hemat (irit). Miskin adalah orang yang memiliki harta benda atau pekerjaan yang penghasilannya mencapai separuh lebih namun masih belum mencukupi kebutuhannya. Yang dimaksud dengan mencukupi bagi yang mempunyai pekerjaan adalah : kecukupan sehari-hari. Bagi yang tidak memiliki pekerjaan (seperti lumpuh) adalah harta yang mencukupi untuk kebutuhan seumur hidup (62 Th).”
b. Batasan muallaf adalah orang yang baru memeluk agama Islam menurut penilaian umum (urf).
اَلْفِقْهُ اْلاِسْلاَمِيُّ وَأَدِلَّتُهُ: 3/2004
وَأَمَّا الْمُؤَلَّفَةُ الْمُسْلِمُوْنَ فَيُعْطَوْنَ مِنَ الزَّكَاةِ اِتِّفَاقًا اِذَا كَانُوْا حَدِيْثِيْ عَهْدٍ بِإِسْلاَمٍ لِيَتَمَكَّنَ اْلاِسْلاَمُ فِى نُفُوْسِهِمْ كَمَا ذَكَرَ الدَّسُوْقِيُّ،
Kitab Al-Fiqh Al-Islamiy Wa Adillatuhu, Juz 3, hlm 2004:
“Al-Mu’allafah Al-Muslimun maka mereka diberi zakat menurut sepakatnya ulama’ apabila mereka baru masanya memeluk agama islam supaya agama islam itu menetap dalam hatinya. Seperti penjelasan Imam Ad-Dasuqi.”
اَلْأَشْبَاهُ وَالنَّظَائِرُ: 1/ 180
الْمَبْحَثُ الْخَامِسُ قَالَ الْفُقَهَاءُ : كُلُّ مَا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ مُطْلَقًا ، وَلَا ضَابِطَ لَهُ فِيهِ ، وَلَا فِي اللُّغَةِ ، يُرْجَعُ فِيهِ إلَى الْعُرْفِ .
Kitab Al-Asybah Wa An-Nadzoir, Juz I, hlm 180:
“Pembahasan yang kelima adalah ungkapan Ulama’ Fiqh: “semua perkara yang dibawa oleh syara’ yang bersifat mutlak, serta tidak memiliki batasan pasti didalam syara’ maupun kebahasaan, maka perkara tersebut dikembalikan pada ‘Urf.”
c. Mereka yang tersebut di atas tidak berhak lagi menerima bagian zakat dengan meng-atas namakan golongan fi sabilillah/sabilil khair karena telah memperoleh gaji/tunjangan dari pekerjaan atau jasa yang dilakukannya.
شَرْحُ مُخْتَصَرِ خَلِيْلٍ لِلْمَالِكِيِّ: 6/350 – 351
فَقَدْ أَجَابَ سَيِّدِي مُحَمَّدٌ الصَّالِحُ بْنُ سُلَيْمٍ الْأَوْجَلِيُّ حِينَ سُئِلَ عَنْ إعْطَاءِ الزَّكَاةِ لِلْعَالِمِ الْغَنِيِّ وَالْقَاضِي وَالْمُدَرِّسِ وَمَنْ فِي مَعْنَاهُمْ مِمَّنْ نَفْعُهُ عَامٌّ لِلْمُسْلِمِينَ بِمَا نَصُّهُ : الْحَمْدُ لِلَّهِ يَجُوزُ إعْطَاءُ الزَّكَاةِ لِلْقَارِئِ وَالْعَالِمِ وَالْمُعَلِّمِ وَمَنْ فِيهِ مَنْفَعَةٌ لِلْمُسْلِمِينَ وَلَوْ كَانُوا أَغْنِيَاءَ لِعُمُومِ نَفْعِهِمْ وَلِبَقَاءِ الدِّيْنِ كَمَا نَصَّ عَلَى جَوَازِهَا ابْنُ رُشْدٍ وَاللَّخْمِيُّ وَقَدْ عَدَّهُمْ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي الْأَصْنَافِ الثَّمَانِيَةِ الَّتِي تُعْطَى لَهُمْ الزَّكَاةُ حَيْثُ قَالَ {وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ}.... قَالَ شَيْخُنَا السَّيِّدُ مُحَمَّدٌ : هَذَا كُلُّهُ مَا لَمْ يَكُنْ لَهُمْ رَاتِبٌ فِي بَيْتِ الْمَالِ.
Kitab Syarh Muhtashor Kholil Li al-Malikiy, Juz 6, hlm 350-351:
“Sayyidi Muhammad Sholih bin Sulaim Al-Aujali memberikan jawaban ketika ditanya tentang pemberian zakat kepada orang ‘alim yang kaya, Qodhi, Guru, dan orang-orang yang semakna dengan mereka dari golongan orang yang memberikan manfaat secara luas kapada kaum muslimin dengan redaksi jawaban: “ segala puji bagi Allah, diperbolehkan memberikan zakat kepada seorang Qori’(ahli baca al-Qur’an), orang ‘alim, guru, dan setiap orang yang memberi kemanfaatan kepada kaum muslimin meskipun mereka adalah orang kaya, di karenakan memberi manfaat secara luas serta demi kelestarian agama (Islam) sebagaimana diungkapkan pula oleh Ibnu Rusyd dan Al-Lakhmi tentang hukum bolehnya. Dan Allah SWT mengelompokkan mereka kedalam delapan golongan orang-orang yang berhak menerima zakat sebagaimana Allah berfirman “(dan orang yang berjuang di jalan Allah) …… Syaikh Sayyid Muhammad berkata: “hukum ini berlaku selama mereka tidak mendapat tunjangan dari baitul mal.”(red.)
3. ZAKAT FITRAH
a. Dengan tinjauan berbagai Madzhab, bagaimana hukum pembayaran zakat fitrah dengan memakai uang? Jika diperbolehkan, senilai berapa kilogram beras uang yang harus dikeluarkan?
Jawaban:
a. Membayar zakat fitrah dengan memakai uang diperbolehkan menurut madzhab Hanafiah dengan pertimbangan kemanfaatannya yang lebih besar. Adapun jumlah zakat yang dikeluarkan adalah sebesar harga beras satu sha’ / 2,7 kg menurut Imam Abu Yusuf (seorang ulama pengikut Madzhab Hanafi).
اَلْفِقْهُ عَلَى اْلمَذَاهِبِ اْلاَرْبَعَةِ: 1/989
اَلْحَنَفِيَّةُ قَالُوْا: حُكْمُ صَدَقَةِ اْلفِطْرِ الْوُجُوْبُ بِالشَّرَائِطِ اْلآتِيَةِ.... وَيَجُوْزُ لَهُ أَنْ يُخْرِجَ قِيْمَةَ الزَّكَاةِ الْوَاجِبَةِ مِنَ الْنُقُوْدِ بَلْ هَذَا أَفْضَلُ لِأَنَّهُ أَكْثَرُ نَفْعًا لِلْفُقَرَاءِ.
Kitab Al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arbi’ah, Juz 1, hlm 989:
“Ulama’ hanafiah berkata: “zakat fitrah berhukum wajib dengan syarat-syarat yang akan disebutkan …… boleh bagi Muzakki (wajib zakat) untuk membayar zakat wajib dengan uang senilai zakat tersebut; bahkan hal ini lebih utama karena dianggap lebih banyak manfaatnya bagi orang-orang fakir.”
رَحْمَةُ اْلأُمَّةِ فِي اخْتِلاَفِ اْلأَئِمَّةِ: ص.87
وَاتَّفَقُوْا عَلَى أَنَّ الْوَاجِبَ صَاعٌ بِصَاعِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ كُلِّ جِنْسٍ مِنَ الْخَمْسِ إِلاَّ أَباَ حَنِيْفَةَ، فَقَالَ: يُجْزِئُ مِنَ الْبُرِّ نِصْفُ صَاعٍ، ثُمَّ اخْتَلَفُوْا فِي قَدْرِ الصَّاعِ، فَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَمَالِكٌ وَاَحْمَدُ وَأَبُوْ يُوْسُفَ: هُوَ خَمْسَةُ أَرْطَالٍ وَثُلْثٌ بِاْلعِرَاقِيّ، وَقَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ: ثَمَانِيَةُ أَرْطَالٍ.
Kitab Rahmah al-Ummah Fi Ikhtilaf al-A’immah, hlm 87:
“Ulama’ bersepakat bahwa yang wajib dikeluarkan (dalam zakat fitrah) adalah satu sho’ dengan takaran sho’-nya Rasulullah SAW dari setiap jenis dari lima jenis makanan pokok, kecuali menurut Abu Hanifah yang berkata: zakatnya gandum putih adalah setengah sho’. Akan tetapi ulama’ berbeda pendapat tentang ukuran satu sho’. Menurut Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan Abu Yusuf (ulama’ Hanafiah) : satu sho’ sama dengan 5 rithl Iraq. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah adalah 8 rithl.”
اِتْحَافُ السَّادَةِ الْمُتَّقِيْنَ: 4/ 54
(فَصْلٌ) وَقَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ وَمُحَمَّدٌ الصَّاعُ النَّبَوِيُّ ثَمَانِيَةُ أَرْطَالٍ بِالْبَغْدَادِيّ... وَخَالَفَ فِي ذَلِكَ أَخَرُوْنَ فَقَالُوْا وَزْنُهُ خَمْسَةُ أَرْطَالٍ وَثُلْثُ رِطْلٍ، وَمِمَّنْ قَالَ بِذَلِكَ أَبُوْ يُوْسُفَ.
Kitab Ittihaf as-Saadat al-Muttaqiin, Juz 4, hlm 54:
“(Pasal) Imam Abu Hanifah dan Syaikh Muhammad mengungkapkan bahwa satu sho’-nya Nabi adalah 8 rithl Bagdad….. Ulama’ yang lain berbeda pendapat akan hal ini dengan mengatakan bahwa : “satu sho’ adalah 5 rithl, diantara yang mengungkapkan hal ini adalah Imam Abu Yusuf.”