Rabu, 24 Mei 2017

MELONTAR JUMROH PADA HARI TASYRIK




Dalam rangka untuk mempermudah jama'ah dan memperlancar dalam melontar jumroh pada hari Tasyriq, banyak di antara jama'ah haji yang selama melempar jumroh melakukannya pada tengah malam sebelum fajar, padahal dalam kitab-kitab Fiqh Syafi'iyah dijelaskan bahwa waktu pelemparan jumroh tersebut adalah setelahzawal (turunnya matahari ke arah barat).


Pertanyaan:


Adakah pendapat ( lintas madzab ) yang membenarkan praktek seperti diatas




Jawaban: 

Pelemparan jumroh pada tengah malam tidak sah, kecuali jika pelemparan pada malam hari itu adalah sebagai ganti dari pelemparan siang hari sebelumnya. Namun pendapat Imam Rofi’i yang dikuatkan oleh Imam Isnawi memperbolehkan pelemparan jumroh tersebut mulai terbitnya fajar.



مَذْهَبُ اْلإمَامِ الشَّافِعِيّ فِي الْعِبَادَاتِ وَأَدِلَّتُهَا: ص. 514


وَيَدْخُلُ وَقْتُ رَمْيِ كُلِّ يَوْمٍ مِنْ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ بِزَوَالِ شمَسِهِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ، وَالْاَفْضَلُ فِعْلُهُ قَبْلَ صَلاَةِ الظُّهْرِ إِنِ اتَّسَعَ اْلوَقْتُ لِلصَّلاَةِ. وَقَالَ الْكُرْدِيُّ نَقْلاً عَنِ التُّحْفَةِ: وَجَزَمَ الرَّافِعِيُّ بِجَوَازِهِ قَبْلَ الزَّوَالِ وَهُوَ ضَعِيْفٌ وَإِنِ اعْتَمَدَ اْلإِسْنَوِيُّ وَزَعَمَ أَنَّهُ الْمَعْرُوْفُ مَذْهَبًا. وَعَلَيْهِ فَيَنْبَغِيْ جَوَازُهُ مِنَ اْلفَجْرِ. وَنَقَلَ السَّيِّدُ عَلَوِيّ: هَذِهِ الْعِبَارَةُ عَنِ التُّحْفَةِ.



“Masuknya waktu melempar Jumroh pada hari Tasyriq, menurut pendapat mu’tamad, dimulai pada saat zawal al-syamsi (condongnya/miringya matahari ke arah barat). Namun yang paling utama adalah melakukannya sebelum shalat dzuhur jika waktunya masih mencukupi untuk sholat. Dengan mengutip dari kitab al-Tukhfah, Al-Kurdi berkomentar bahwa Imam al-Rofi’i memperbolehkan melakukannya sebelum zawal al-sayamsi. Meskipun pendapat ini lemah, Al-Isnawi tetap berpedoman kepadanya dan menganggap pendapat inilah yang populer di kalangan mazhab syafi’iyyah. Dengan demikian, jika melihat pendapat terakhir ini, maka selayaknya juga diperbolehkan melakukannya mulai dari munculnya fajar. Menurut Sayyid ‘Alawi, pendapat ini bersumber dari kitab al-Tukhfah.”



حَوَاشِي الشَّرْوَانِيّ عَلَى تُحْفَةِ الْمُحْتَاجِ : 4/ 155-156، مكتبة دار الفكر.


( وَإِذَا ) ( تَرَكَ رَمْيَ )، أَوْ بَعْضَ رَمْيِ ( يَوْمٍ ) لِلنَّحْرِ، أَوْ مَا بَعْدَهُ عَمْدًا، أَوْ غَيْرَهُ ( تَدَارَكَهُ فِي بَاقِي الْأَيَّامِ ) وَيَكُونُ أَدَاءً (فِي الْأَظْهَرِ) ....وَجَزْمُ الرَّافِعِيِّ بِجَوَازِهِ قَبْلَ الزَّوَالِ كَالْإِمَامِ ضَعِيفٌ، وَإِنْ اعْتَمَدَهُ الْإِسْنَوِيُّ وَزَعَمَ أَنَّهُ الْمَعْرُوفُ مَذْهَبًا وَعَلَيْهِ فَيَنْبَغِي جَوَازُهُ مِنْ الْفَجْرِ نَظِيرَ مَا مَرَّ فِي غُسْلِهِ .


“Melempar jumroh pada hari nahr (10 Dzulhijjah) atau hari-hari setelahnya, jika ditinggalkan boleh disusul atau diganti pada hari berikutnya, dan menurut Qaul Adzhar tetap dihukumi ada’ (tepat waktunya)…..


Imam al-Rofi’i memperbolehkan melempar jumroh pada hari Tasyriq sebelum zawal al-sayamsi. Meskipun pendapat ini lemah, al-Isnawi tetap berpedoman kepadanya dan menganggap pendapat inilah yang populer di kalangan mazhab syafi’iyyah. Dengan demikian, selayaknya juga diperbolehkan melakukannya mulai dari munculnya fajar, karena disamakan dengan kesunahan mandi pada hari itu.”  




حَاشِيَةُ الْعَلاَمَةِ ابْنِ حَجَرٍ الهَيْتَمِيّ عَلَى شَرْحِ اْلإيْضَاحِ فِيْ مَنَاسِكِ اْلحَجِّ: 405


لاَ يَصِحُّ الرَّمْيُ فِي هَذِهِ اْلأَيَّامِ اِلاَّ بَعْدَ زَوَالِ الشَّمْسِ وَيَبْقَى وَقْتُهُ إِلَى غُرُوْبِهَا وَقِيْلَ يَبْقَى إِلَى طُلُوْعِ اْلفَجْرِ, وَاْلاَوَّلُ أَصَحُّ.


“Melempar jumroh pada hari tasyriq hanya sah jika dilakukan setelah zawal al-syamsi, dan berakhir sampai terbenamnya matahari. Ada yang mengatakan bahwa waktunya berakhir sampai munculnya fajar hari berikutnya. Pendapat pertamalah yang paling shahih.