Rabu, 24 Mei 2017
MENJUAL BARANG NAJIS
Menjual barang - barang yang najis adalah termasuk jual beli yang tidak sah, namun kenyataannya banyak masyarakat menjual kotoran sapi untuk pupuk. Dalam sebagian kitab fiqh dijelaskan tentang solusi untuk kasus di atas yaitu bisa dengan cara نقل اليد
Pertayaan:
Sebenarnya bagaimana praktek dari نقل اليد ?
Dan bagaimana andaikan masyarakat yang menjual tidak mau tahu tentang نقل اليد yang penting mereka dapat duit ?
Jawaban:
Praktek نقل اليد dalam masalah diatas adalah dicontohkan seperti perkataan dari pemilik pupuk kepada penerima; “saya berikan pupuk ini kepadamu dengan harga 100 ribu rupiah.” Kemudian penerima berkata; “saya terima.” Bentuk transaksi seperti ini boleh, meskipun pelakunya tidak tahu tentang siapa ulama yang berpendapat bahwa memperbolehkan transaksi ini boleh, yang penting cukup dia yakin bahwa praktek transaksi di atas ada yang memperbolehkannya.
تُحْفَةُ الْمُحْتَاجِ فِيى شَرْحِ الْمِنْهَاجِ، ج :16 ص : 299
وَيَجُوزُ نَقْلُ الْيَدِ عَنْ النَّجِسِ بِالدَّرَاهِمِ كَمَا فِي النُّزُولِ عَنْ الْوَظَائِفِ .وَطَرِيقُهُ أَنْ يَقُولَ الْمُسْتَحِقُّ لَهُ أَسْقَطْت حَقِّي مِنْ هَذَا بِكَذَا فَيَقُولُ الْآخَرُ قَبِلْت.
Kitab Tukhfah al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj, juz 16, hlm. 299:
“Diperbolehkan memindah kepemilikan (akad Naql al-Yad) atas suatu barang yang najis dengan diganti uang dirham, seperti kebiasaan yang terjadi di rumah-rmah. Bentuk akad tersebut yaitu seperti perkataan pemilik barang kepada orang lain, “saya serahkan hakku barang ini dengan gantian uang sekian”, lalu orang tesebut menjawab; “baiklah, saya terima.”
بُغْيَةُ الْمُسْتَرْشِدِيْنَ: ص. 257
اَلْعَامِيُّ لاَ مَذْهَبَ لَهُ، بَلْ إِذَا وَافَقَ قَوْلاً صَحِيْحاً صَحَّتْعِبَادَتُهُ وَمُعَامَلَتُهُ، وَإِنْ للَمْ يَعْلَمْ عَيْنَ قَائِلِهِ كَمَا مَرَّفِي اْلمُقَدَّمَةِ.
Kitab Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 257
Orang yang awam dikategorikan sebagai orang yang tidak bermazhab, sehingga apa yang dilakukannya jika sesuai dengan pendapat yang benar (sahih) maka sah ibadah dan muamalah-nya itu, walaupun ia tidak mengetahui pendapat siapa itu.
HARGA CASH/ KONTAN DAN KREDIT
Pada saat seseorang melakukan pembelian sepeda motor, disana ada " Brosur" yang menjelaskan bahwa harga antara cash dan kredit tidak sama, misalnya kalau kontan /cash harganya 14 Juta , dan bila kredit total harganya sampai 18 Juta. Dalam kitab fiqh, kita ketahui bahwa termasuk transaksi yang dilarang adalah menjual barang dengan dua harga.
Pertayaan:
Apakah praktek jual beli di atas termasuk menjual barang dengan dua harga? Dan bagaimana hukumnya?
Jawaban:
Jual beli tersebut dihukumi sah dan tidak termasuk jual beli dengan 2 harga, karena dua harga itu hanya sekedar penawaran dari penjual untuk dipilih oleh pembeli. Brosur yang memcantumkan harga cahs dan kredit tidak bisa disebut shighot karena tidak ada khitob (sasaran pembeli yang sudah pasti) dan brosur tersebut tidak ada penyerahan kepemilikan atau penerimaan hak milik. Yang bisa disebut shighot adalah kesepakatan pembeli dan penjual, yang pada prakteknya mereka menyepakati salah satu di antara akad cash atau kredit.
مُغْـنِي المُحْتَاجِ . ج: 6 ص : 232
( وَأَنْ يَقْبَلَ عَلَى وَفْقِ الْإِيجَابِ ) فِي الْمَعْنَى كَالْجِنْسِ وَالنَّوْعِ وَالصِّفَةِ وَالْعَدَدِ وَالْحُلُولِ
وَالْأَجَلِ ( فَلَوْ قَالَ : بِعْتُك ) هَذَا الْعَبْدَ مَثَلًا ( بِأَلْفٍ مُكَسَّرَةٍ فَقَالَ : قَبِلْت
بِأَلْفٍ صَحِيحَةٍ ) أَوْ عَكْسُهُ.
Kitab Mughni al-Muhtaj, Juz 6, hlm. 232:
Penerimaan (Qabul) atas akad jual beli maknanya harus sesuai dengan ijab-nya, seperti jenis, macam, sifat, jumlah dan tempo/kontannya. Misalnya jika pembeli mengatakan “saya menjual barang ini kepadamu dengan harga seribu”, maka qabul-nya berbunyi: “saya terima dengan harga seribu.”
مُغْـنِي المُحْتَاجِ . ج: 6 ص : 219
أَحَدُهُمَا أَنَّ إسْنَادَ الْبَيْعِ إلَى الْمُخَاطَبِ لَا بُدَّ مِنْهُ، وَلَوْ كَانَ نَائِبًا عَنْ غَيْرِهِ حَتَّى لَوْ لَمْ يُسْنَدْ إلَى أَحَدٍ كَمَا يَقَعُ فِي كَثِيرٍ مِنْ الْأَوْقَاتِ أَنْ يَقُولَ الْمُشْتَرِي لِلْبَائِعِ : بِعْت هَذَا بِعَشَرَةٍ مَثَلًا، فَيَقُولُ : بِعْتُ فَيَقْبَلُهُ الْمُشْتَرِي لَمْ يَصِحَّ، وَكَذَا لَوْ أَسْنَدَهُ إلَى غَيْرِ الْمُخَاطَبِ كَبِعْت مُوَكِّلَك بِخِلَافِ النِّكَاحِ.
Kitab Mughni al-Muhtaj, juz 6, hlm. 219:
“Dalam jual beli diharuskan menyandarkan kata-kata ijab kepada seorang yang telah dituju, walaupun orang tersebut statusnya sebagai wakil / pengganti. Oleh karenanya, jual beli yang tidak ditujukan kepada orang tertentu, misalnya seperti pertanyaan seorang pembeli; “engkau mau menjual barang ini dengan harga sepuluh”, lalu penjual pun menjawab; “iya”, dan pembeli pun kemudian menerima akad tersebut, maka yang demikian akadnya dihukumi tidak sah.”
ZAKAT SETELAH DIPOTONG BIAYA
Hasil panen boleh digunakan terlebih dahulu untuk membayar biaya tanam yang berhutang, seperti pupuk dan lain-lain.Kemudian sisanya dizakati bila mencapai satu nishob. Namun demikian, pendapat tentang pupuk bisa mengurangi prosentase pengeluaran zakat (menjadi 5 %) itu tidak ada.
قُرَّةُ الْعَيْنِ فِي هَامِشِ بُغْيَةِ الْمُسْتَرْشِدِيْنَ: ص. 100
سُئِلَ فِى أَهْلِ بَلَدٍ يَعْتَادُوْنَ تَسْمِيْدَ اَشْجَارِهِمْ بَدَلَ السِّقَايَةِ وَيَرَوْنَ أنَّهَا لِنُمُوِّ الثَّمْرَةِ مِنَ السِّقَايَةِ لهَاَ وَيُخْرِجُوْنَ عَلَى ذَلِكَ خَرْجَ السِّقَايَةِ بَلْ اَكْثَرَ. فَهَلْ يَجِبُ عَلَى مَالِكِ اْلاَشْجَارِ اْلعُشُرُ أَوْ نِصْفُهُ. ( اَجَابَ ) اَلتَّسْمِيْدُ وَالتَّحْرِيْثُ لاَ يُغَيِّرُ حُكْمَ الْوَاجِبِ فَيَجِبُ نِصْفُ الْعُشْرِ اِنْ سُقِيَتْ بِمُؤْنَةٍ وَإلاَّ فَاْلوَاجِبُ اْلعُشُرُ .
Kitab Qurroh al-Ain fi Hamisy Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 100:
Ada sebuah pertanyaan tentang kebiasaan masyarakat yang memberi pupuk tanamannya sebagai ganti air siraman karena mereka menganggap hasil yang diperoleh akan lebih besar. Dan kemudian mereka mengeluarkan biaya pemupukan sebagaiman biaya pengairan, bahkan lebih besar. Pertanyaanya, berapa besar zakat yang wajib dikeluarkan bagi pemiliki kebun tersebut, 10 % atau 5 %? Jawab: pupuk dan obat perangsang tanaman tidak mempengaruhi ukuran zakat yang dikeluarkan seseorang, jika pengairannya membutuhkan biaya maka zakatnya 5 %, dan jika tidak maka 10 %.
فِقْهُ السُّنَّةِ: 1/ 358-359
وَمَذْهَبُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ يُحْسَبُ مَا اقْتَرَضَهُ مِنْ أَجْلِ زَرْعِهِ وَثَمْرِهِ. عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا -فِي الرَّجُلِ يَسْتَقْرِضُ فَيُنْفِقُعَلَى ثَمْرَتِهِ وَعَلَى أَهْلِهِ - قاَلَ: قَالَ ابْنُ عُمَرُ: يَبْدَأُ بِمَا اسْتَقْرَضَ فَيَقْضِيْهِ وَيُزَكِّي مَا بَقِيَ.
Kitab Fiqh al-Sunnah, Juz 1, hlm. 358-359:
“Ibn Abbas dan Ibn Umar Ra. menghitung adanya biaya tanaman yang terhutang. Bahkan diceritakan oleh Jabir ibn Zaid, dari Ibn Abbas dan Ibn Umar Ra. bahwa mereka memperbolehkan seorang laki-laki yang menghutang untuk keperluan tanaman dan keluarganya. Dan Ibn Umar berkomentar bahwa hasil dari tanaman terlebih dahulu boleh ia potong untuk biaya tanaman yang terhutang, kemudian baru sisanya ia keluarkan zakatnya.”
PRAKTEK PERAWATAN JANAZAH
Banyak sekali tradisi atau praktek pelaksanaan perawatan mayit/jenazah yang di antara satu daerah dengan daerah lain tidak sama, seperti mewudlu’kan mayit, ada yang dilakukan setelah memandikan mayit, ada yang dilakukan sebelum memandikan. Begitu juga dalam memposisikan kepala mayit, ada yang membedakan antara mayit laki-laki dan perempuan.
Pertanyaan:
Sebenarnya bagaimana praktek yang benar menurut pandangan Ulama Fiqh?
Jawaban:
Adapun dalam mewudhukan mayit disunnahkan untuk dilakukan sebelum memandikan, namun jika tidak dilakukan sebelumnya maka tetap disunnahkan untuk mewudlu’kannya setelah memandikan. Sedangkan untuk posisi kepala mayit ketika disholati; kepala mayit laki-laki berada disebelah kiri orang yang mensholati, dan kepala mayit perempuan disebelah kanan orang yang mensholati.
اَلْفِقْهُ اْلإسْلاَمِيُّ وَأَدِلَّتُهُ: 3/251
اِتَّفَقَ أَئِمَّةُ الْمَذَاهِبِ عَلَى أَنَّ اْلغَاسِلَ يُوَضِّئُ الْمَيِّتَ غَيْرَ الصَّغِيْرِ كَالْحَيِّ بَعْدَ إِزَالَةِ مَا بِهِ مِنْ نَجْسٍ أَوْ وَسْخٍ، بِالسِّدْرِ أَوِ الصَّابُوْنِ، وَغَسَلَ سَوْأَتَيْهِ بِخِرْقَةٍ، لَكِنْ بِدُوْنِ مَضْمَضَةٍ وَاسْتِنْشَاقٍ عِنْدَ الْحَنَفْيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ لِلْحَرَجِ، ِلأَنَّهُ إِذَا دَخَلَ اْلمَاءُ فِي اْلفَمِ وَاْلأَنْفِ، فَوَصَلَ إِلَى جَوْفِهِ حَرَّكَ النَّجَاسَةَ. وَبِهِمَا قَلِيْلاً عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ بِأَنْ يَضَعَ اْلغَاسِلُ اْلماَءَ فِي فَمِهِ عِنْدَ إِمَالَةِ رَأْسِهِ. فَإِنْ كَانَ الْمَيِّتُ جُنُبًا أَوْ حَائِضًا أَوْ نُفَسَاءَ، فُعِلاَ اِتِّفَاقًا، تَتْمِيْمًا لِلطَّهَارَةِ. وَعَلَى هَذَا فَيُبْدَأُ باِلْوُضُوْءِ فيِ غُسْلِ الْمَيِّتِ.
“Para Imam Mazhab sepakat bahwa mewudlu’kan mayit selain mayit anak kecil dilakukan seperti halnya orang yang hidup setelah membersihkan kotoran dan najis dengan air sabun dan dedaunan. Kemudian kubul dan duburnya dibersihkan dengan kain, namun menurut Hanafiah dan Hanabilah tidak perlu mengkumur-kumurkan dan memasukkan air ke hidung mayit, karena air yang masuk ke mulut dan hidung akan menyebabkan bergeraknya najis. Sedangkan menurut Malikiyah dan Syafi’iyyah boleh saja dengan sedikit memasukkan air di mulut mayit ketika menundukkan kepalanya. Dan jika mayit tersebut dalam kondisi junub, haid atau nifas maka secara sepakat perlu berkumur dan memasukkan air ke hidung mayit untuk menyempurnakan bersucinya. Dengan demikian, mewudlu’kan mayit dilakukan sebelum memandikannya.”
فَتْحُ اْلمُعِيْنِ : 94
وَلَوْ تَوَضَّأَ أَثْناَءَ الْغُسْلِ أَوْ بَعْدَهُ حَصَلَ لَهُ أَصْلُ السُّنَّةِ، لَكِنِاْلاَفْضَلُ تَقْدِيْمُهُ، وَيُكْرَهُ تَرْكُهُ.
“Jika berwudlu’ dilakukan di tengah-tengah mandi atau sesudahnya, maka tetap mendapat kesunnahan, tetapi yang paling utama adalah mendahulukan wudlu atas mandi, dan makruh jika ditinggalkan.”
اَلْبُجَيْرَمِيُّ عَلَى الْخَطِيْبِ : 6/97
قَوْلُهُ : (عِنْدَ رَأْسِ ذَكَرٍ إلَخْ) عِبَارَةُ ع ش : وَتُوضَعُ رَأْسُ الذَّكَرِ لِجِهَةِ يَسَارِ الْإِمَامِ وَيَكُونُ غَالِبُهُ لِجِهَةِ يَمِينِهِ خِلَافَ مَا عَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ الْآنَ، أَمَّا الْأُنْثَى وَالْخُنْثَى فَيَقِفُ الْإِمَامُ عِنْدَ عَجِيزَتِهِمَا وَيَكُونُ رَأْسَهُمَا لِجِهَةِ يَمِينِهِ عَلَى مَا عَلَيْهِ النَّاسُ الْآنَ ا هـ .
“Ketika shalat, kepala mayit laki-laki diletakkan di sebeah kiri imam sehingga mayoritas badan mayit berada di sebelah kanan imam. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan masyarakat sekarang. Adapun mayit perempuan atau banci, imam berdiri di hadapan pantatnya dengan kepala mayit berada di sebelah kanan imam seperti yang dipraktekan oleh masyarakat sekarang.”
MELONTAR JUMROH PADA HARI TASYRIK
Dalam rangka untuk mempermudah jama'ah dan memperlancar dalam melontar jumroh pada hari Tasyriq, banyak di antara jama'ah haji yang selama melempar jumroh melakukannya pada tengah malam sebelum fajar, padahal dalam kitab-kitab Fiqh Syafi'iyah dijelaskan bahwa waktu pelemparan jumroh tersebut adalah setelahzawal (turunnya matahari ke arah barat).
Pertanyaan:
Adakah pendapat ( lintas madzab ) yang membenarkan praktek seperti diatas
Jawaban:
Pelemparan jumroh pada tengah malam tidak sah, kecuali jika pelemparan pada malam hari itu adalah sebagai ganti dari pelemparan siang hari sebelumnya. Namun pendapat Imam Rofi’i yang dikuatkan oleh Imam Isnawi memperbolehkan pelemparan jumroh tersebut mulai terbitnya fajar.
مَذْهَبُ اْلإمَامِ الشَّافِعِيّ فِي الْعِبَادَاتِ وَأَدِلَّتُهَا: ص. 514
وَيَدْخُلُ وَقْتُ رَمْيِ كُلِّ يَوْمٍ مِنْ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ بِزَوَالِ شمَسِهِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ، وَالْاَفْضَلُ فِعْلُهُ قَبْلَ صَلاَةِ الظُّهْرِ إِنِ اتَّسَعَ اْلوَقْتُ لِلصَّلاَةِ. وَقَالَ الْكُرْدِيُّ نَقْلاً عَنِ التُّحْفَةِ: وَجَزَمَ الرَّافِعِيُّ بِجَوَازِهِ قَبْلَ الزَّوَالِ وَهُوَ ضَعِيْفٌ وَإِنِ اعْتَمَدَ اْلإِسْنَوِيُّ وَزَعَمَ أَنَّهُ الْمَعْرُوْفُ مَذْهَبًا. وَعَلَيْهِ فَيَنْبَغِيْ جَوَازُهُ مِنَ اْلفَجْرِ. وَنَقَلَ السَّيِّدُ عَلَوِيّ: هَذِهِ الْعِبَارَةُ عَنِ التُّحْفَةِ.
“Masuknya waktu melempar Jumroh pada hari Tasyriq, menurut pendapat mu’tamad, dimulai pada saat zawal al-syamsi (condongnya/miringya matahari ke arah barat). Namun yang paling utama adalah melakukannya sebelum shalat dzuhur jika waktunya masih mencukupi untuk sholat. Dengan mengutip dari kitab al-Tukhfah, Al-Kurdi berkomentar bahwa Imam al-Rofi’i memperbolehkan melakukannya sebelum zawal al-sayamsi. Meskipun pendapat ini lemah, Al-Isnawi tetap berpedoman kepadanya dan menganggap pendapat inilah yang populer di kalangan mazhab syafi’iyyah. Dengan demikian, jika melihat pendapat terakhir ini, maka selayaknya juga diperbolehkan melakukannya mulai dari munculnya fajar. Menurut Sayyid ‘Alawi, pendapat ini bersumber dari kitab al-Tukhfah.”
حَوَاشِي الشَّرْوَانِيّ عَلَى تُحْفَةِ الْمُحْتَاجِ : 4/ 155-156، مكتبة دار الفكر.
( وَإِذَا ) ( تَرَكَ رَمْيَ )، أَوْ بَعْضَ رَمْيِ ( يَوْمٍ ) لِلنَّحْرِ، أَوْ مَا بَعْدَهُ عَمْدًا، أَوْ غَيْرَهُ ( تَدَارَكَهُ فِي بَاقِي الْأَيَّامِ ) وَيَكُونُ أَدَاءً (فِي الْأَظْهَرِ) ....وَجَزْمُ الرَّافِعِيِّ بِجَوَازِهِ قَبْلَ الزَّوَالِ كَالْإِمَامِ ضَعِيفٌ، وَإِنْ اعْتَمَدَهُ الْإِسْنَوِيُّ وَزَعَمَ أَنَّهُ الْمَعْرُوفُ مَذْهَبًا وَعَلَيْهِ فَيَنْبَغِي جَوَازُهُ مِنْ الْفَجْرِ نَظِيرَ مَا مَرَّ فِي غُسْلِهِ .
“Melempar jumroh pada hari nahr (10 Dzulhijjah) atau hari-hari setelahnya, jika ditinggalkan boleh disusul atau diganti pada hari berikutnya, dan menurut Qaul Adzhar tetap dihukumi ada’ (tepat waktunya)…..
Imam al-Rofi’i memperbolehkan melempar jumroh pada hari Tasyriq sebelum zawal al-sayamsi. Meskipun pendapat ini lemah, al-Isnawi tetap berpedoman kepadanya dan menganggap pendapat inilah yang populer di kalangan mazhab syafi’iyyah. Dengan demikian, selayaknya juga diperbolehkan melakukannya mulai dari munculnya fajar, karena disamakan dengan kesunahan mandi pada hari itu.”
حَاشِيَةُ الْعَلاَمَةِ ابْنِ حَجَرٍ الهَيْتَمِيّ عَلَى شَرْحِ اْلإيْضَاحِ فِيْ مَنَاسِكِ اْلحَجِّ: 405
لاَ يَصِحُّ الرَّمْيُ فِي هَذِهِ اْلأَيَّامِ اِلاَّ بَعْدَ زَوَالِ الشَّمْسِ وَيَبْقَى وَقْتُهُ إِلَى غُرُوْبِهَا وَقِيْلَ يَبْقَى إِلَى طُلُوْعِ اْلفَجْرِ, وَاْلاَوَّلُ أَصَحُّ.
“Melempar jumroh pada hari tasyriq hanya sah jika dilakukan setelah zawal al-syamsi, dan berakhir sampai terbenamnya matahari. Ada yang mengatakan bahwa waktunya berakhir sampai munculnya fajar hari berikutnya. Pendapat pertamalah yang paling shahih.
BATASAN JARAK JAUHNYA NAQLU ZAKAT (MEMINDAH ZAKAT) YANG DILARANG
PERTANYAAN :
Salam, soal titipan : kalau kita zakat fitrah ke desa, dari desa ‘kan nanti dibawa ke kecamatan lalu ke kabupaten, Nah apakah itu bukan termasuk “naqlu zakat” ???
JAWABAN :
Kalau zakat dipindah dari satu desa ke desa lain dalam satu kabupaten, itu juga termasuk naqlu zakat, namun hukumnya boleh jika tidak sampai melebihi jarak diperbolehkannya qoshr shalat. Namun jika mengikuti qoul yang memerbolehkan naqlu zakat secara mutlak, maka hal di atas bukanlah masalah.
> Masaji Antoro
TIDAK SAH memindahkan zakat ke daerah lain menurut pendapat mayoritas ulama yaitu pendapat azhar dari kalangan syafi’iyyah, akan tetapi kalau mengikuti terhadap pendapat yang memperbolehkan memindahkan zakat (seperti pendapat Ibn ‘Ujjail, Ibn Sholaah, Abu Muhrimah, Arrauyaani, alKhithoobi dan Ibn ‘Attiq) maka boleh dan pendapat inipun boleh diikuti. Keterangan diambil dari :
( من غالب قوت بلده ) أي بلد المؤدى عنه فلا تجزىء من غير غالب قوته أو قوت مؤد أو بلده لتشوف النفوس لذلك ومن ثم وجب صرفها لفقراء بلده مؤدى عنه
(Keterangan diambil dari makanan pokok umum daerahnya) artinya daerah orang yang mengeluarkan zakat maka zakat tidak cukup dengan makanan pokok yang tidak umum didaerahnya karena tingginya harapan orang-orang (atas yang ia keluarkan)karenanya zakat juga wajib diserahkan pada fakir miskinnya daerah orang yang mengeluarkannya.Fath al-Muiin II/172.
(مسألة : ج) : وجدت الأصناف أو بعضهم بمحلّ وجب الدفع إليهم ، كبرت البلدة أو صغرت وحرم النقل ، ولم يجزه عن الزكاة إلا على مذهب أبي حنيفة القائل بجوازه ، واختاره كثيرون من الأصحاب ، خصوصاً إن كان لقريب أو صديق أو ذي فضل وقالوا : يسقط به الفرض ، فإذا نقل مع التقليد جاز وعليه عملنا وغيرنا ولذلك أدلة اهـ. وعبارة ب الراجح في المذهب عدم جواز نقل الزكاة ، واختار جمع الجواز كابن عجيل وابن الصلاح وغيرهما ، قال أبو مخرمة : وهو المختار إذا كان لنحو قريب ، واختاره الروياني ونقله الخطابي عن أكثر العلماء ، وبه قال ابن عتيق ، فيجوز تقليد هؤلاء في عمل النفس.
Bughyah al-Mustarsyidiin I/217 Wallaahu A’lamu bis Showaab.
وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ فِي الأَْظْهَرِ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ نَقْل الزَّكَاةِ إِلَى مَا يَزِيدُ عَنْ مَسَافَةِ الْقَصْرِ، لِحَدِيثِ مُعَاذٍ الْمُتَقَدِّمِ، وَلِمَا وَرَدَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ، فَبَعَثَ إِلَيْهِ مُعَاذٌ مِنَ الصَّدَقَةِ، فَأَنْكَرَ عَلَيْهِ عُمَرُ وَقَال: لَمْ أَبْعَثْكَ جَابِيًا وَلاَ آخِذَ جِزْيَةٍ، وَلَكِنْ بَعَثْتُكَ لِتَأْخُذَ مِنْ أَغْنِيَاءِ النَّاسِ فَتَرُدَّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ، فَقَال مُعَاذٌ: مَا بَعَثْتُ إِلَيْكَ بِشَيْءٍ وَأَنَا أَجِدُ مَنْ يَأْخُذُهُ مِنِّي.وَرُوِيَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ أُتِيَ بِزَكَاةٍ مِنْ خُرَاسَانَ إِلَى الشَّامِ فَرَدَّهَا إِلَى خُرَاسَانَ.قَالُوا: وَالْمُعْتَبَرُ بَلَدُ الْمَال، إِلاَّ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ قَالُوا: الْمُعْتَبَرُ فِي الأَْمْوَال الظَّاهِرَةِ الْبَلَدُ الَّذِي فِيهِ الْمَال، وَفِي النَّقْدِ وَعُرُوضِ التِّجَارَةِ الْبَلَدُ الَّذِي فِيهِ الْمَالِكُ.
الكتاب: الموسوعة الفقهية الكويتية
Jadi kalau zakat dipindah dari satu desa ke desa lain dalam satu kabupaten, itu juga termasuk naqluz zakat namun hukumnya boleh jika tidak sampai melebihi jarak diperbolehkannya qoshr shalat.
> Ghufron Bkl
Yang tidak boleh naql al zakat itu batasannya adalah ke tempat yang jaraknya sudah diperbolehkan mengqosor shalat.
ولا يجوز للمالك ولو بنائبه نقلها أى الزكاة لبلد آخر، قوله لبلد أخر لو قال عن بلدها لكان أولى لأنه يحرم نقلها خارج السور إلى محل تقصر الصلاة.الشرقاوي ١/٣٩٣فحاصله أن يمتنع نقلها إلى مكان يجوز فيه القصر ويجوز إلى ما لا يجوز فيه القصر. إعانة الطالبين ٢/١٩٨
> Toni Imam Tontowi
Ikut Qoulnya Ibnu ‘Ujail saja :
وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي شَرْحِ الْعُبَابِ: قَالَ الْأَئِمَّةُ الثَّلَاثَةُ وَكَثِيرُونَ: يَجُوزُ صَرْفُهَا إلَى شَخْصٍ وَاحِدٍ مِنْ الْأَصْنَافِ. قَالَ ابْنُ عُجَيْلٍ الْيَمَنِيُّ: ثَلَاثَةُ مَسَائِلَ فِي الزَّكَاةِ يُفْتَى فِيهَا عَلَى خِلَافِ الْمَذْهَبِ: نَقْلُ الزَّكَاةِ وَدَفْعُ زَكَاةِ وَاحِدٍ إلَى وَاحِدٍ وَدَفْعُهَا إلَى صِنْفٍ وَاحِدٍ ا هـ أ ج.
Hasyiyah Al-Bujairimi ‘Alal Khothib bab zakat dalam :
فصل في قسم الصدقات
Sunde Pati > kesuwen daripada bingung-bingung, mendingan ikut pendapat yang naqlu zakat itu boleh, maka dijamin beres…
Ibaroh ini selaras dengan yang dibawakan kang Hezqiel. Hasyiyata Al-Qulyubi III / 203 Marji’ul Akbar :
قَوْلُهُ: (مَنْعُ نَقْلِ الزَّكَاةِ) الْمُرَادُ بِنَقْلِهَا أَنْ يُعْطَى مِنْهَا مَنْ لَمْ يَكُنْ فِي مَحَلِّهَا وَقْتَ الْوُجُوبِ سَوَاءٌ كَانَ مِنْ أَهْلِ ذَلِكَ الْمَحَلِّ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ, وَسَوَاءٌ أَخْرَجَهَا عَنْ الْمَحَلِّ أَوْ جَاءُوا بَعْدَ وَقْتِ الْوُجُوبِ إلَيْهِ. نَعَمْ لَوْ لَمْ يَنْحَصِرْ الْمُسْتَحِقُّونَ فِي الْبَلَدِ جَازَ إعْطَاءُ مَنْ جَاءَهَا بَعْدَ وَقْتِ الْوُجُوبِ. قَالَهُ شَيْخُنَا فَرَاجِعْهُ وَلَوْ خَرَجَ مَعَ الْمُسْتَحِقِّينَ إلَى خَارِجِ الْمَحَلِّ وَدَفَعَهَا لَهُمْ حِينَئِذٍ لَمْ يَمْتَنِعْ, وَخَرَجَ بِالزَّكَاةِ غَيْرُهَا, كَالْكَفَّارَةِ وَالْوَصِيَّةِ وَالنَّذْرِ وَالْوَقْفِ, فَيَجُوزُ النَّقْلُ فِيمَا لَمْ يُخَصَّصْ مِنْهَا. قَوْلُهُ: (مِنْ بَلَدِ الْوُجُوبِ) أَيْ إلَى مَحَلٍّ يَجُوزُ قَصْرُ الصَّلَاةِ فِيهِ لِلْمُسَافِرِ مِنْ أَهْلِ ذَلِكَ الْبَلَدِ, وَالْمُرَادُ بِالْبَلَدِ مَحَلُّ الْوُجُوبِ كَالْقَرْيَةِ وَالْحِلَّةِ وَمَحَلِّ الْإِقَامَةِ لِذِي الْخِيَامِ وَالسَّفِينَةِ لِمَنْ فِيهَا, فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي ذَلِكَ الْمَحَلِّ مُسْتَحِقٌّ تَعَيَّنَ أَقْرَبُ مَحَلٍّ يُوجَدُ فِيهِ الْمُسْتَحِقُّ إلَيْهِ
> Opick Syahreza
Fiqh Salafiyyah Al-Fattahul Ulum :
فتاوى الأزهر – (ج 9 / ص 428
وَاخْتَلَفُوْا فِي نَقْلِهَا إِلَى بَلَدٍ آخَرَ، بَعْدَ إِجْمَاعِهِمْ عَلَى أَنَّهُ يَجُوْزُ نَقْلُهَا إِلَى مَنْ يَسْتَحِقُّهَا إِذَا اسْتَغْنَى أَهْلُ بَلَدِ الَّزكَاةِ عَنْهَا . فَقَالَ الْحَنَفِيَّةُ : يُكْرَهُ نَقْلُهَا ، إِلَّا إِذَا كَانَ النَّقْلُ إِلَى قَرَابَةٍ مُحْتَاجِيْنَ ، لِأَنَّ فىِ ذَلِكَ صِلَةَ رَحْمٍ ، أَوْ إِلَى جَمَاعَةٍ هُمْ أَشَدُّ حَاجَةً مِنْ فُقَرَاءِ الْبَلَدِ، أَوْ كَانَ النَّقْلُ أَصْلَحَ لِلْمُسْلِمِيْنَ ، أَوْ كَانَ مِنْ دَارِ حَرْبٍ إِلَى دَارِ إِسْلَامٍ ، أَوْ كَانَ النَّقْلُ إِلَى طَالِبِ عِلْمٍ ، أَوْ كَانَتِ الزَّكَاةُ مُعَجَّلَةً قَبْلَ أَوَانِ وُجُوْبِهَا وَهُوَ تَمَامُ الْحَوْلِ ، فَفِى جَمِيْعِ هَذِهِ الصُّوَرِ لَا يُكْرَهُ النَّقْلُ . وَالشَّافِعِيَّةُ قَالُوْا : لَا يَجُوْزُ نَقْلُ الزَّكَاةِ مِنْ بَلَدٍ فِيْهِ مُسْتَحِقُّوْنَ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ، بَلْ يَجِبُ صَرْفُهَا فِى الْبَلَدِ الَّذِى وَجَبَتْ فِيْهِ عَلَى الْمُزَكِّى بِتَمَامِ الْحَوْلِ ، فَإِذَا لَمْ يُوْجَدْ مُسْتَحِقُّوْنَ نُقِلَتْ إِلَى بَلَدٍ فِيْهِ مُسْتَحِقُّوْنَ . وَالْمَالِكِيَّةُ لَا يُجِيْزُوْنَ نَقْلَهَا إِلَى بَلَدٍ آخَرَ إِلَّا إِذَا وَقَعَتْ بِهِ حَاجَةٌ فَيَأْخُذُهَا الْإِمَامُ وَيَدْفَعُهَا إِلَى الْمُحْتَاجِيْنَ ، وَذَلِكَ عَلَى سَبِيْلِ النَّظَرِ وَالْاِجْتِهَادِ كَمَا يُعَبِّرُوْنَ . وَالْحَنَابِلَةُ لَا يُجِيْزُوْنَ نَقْلَهَا إِلَى بَلَدٍ يَبْعُدُ مَسَافَةَ الْقَصْرِ، بَلْ تُصْرَفُ فِي الْبَلَدِ الَّذِى وَجَبَتْ فِيْهِ وَمَا يُجَاوِرُهُ فِيْمَا دُوْنَ مَسَافَةِ الْقَصْرِ .
Ulama berbeda pendapat mengenai memindah zakat ke tempat lain, namun mereka sepakat bahwa zakat boleh dipindah ke tempat lain yang ada mustahiqnya jika di wilayahnya sudah tidak ada yang membutuhkan zakat. Menurut ulama Hanafiyah:Makruh memindahkan zakat, kecuali untuk diberikan kepada kerabat yang membutuhkan (sekaligus bernilai sebagai silaturrahim), atau untuk sekelompokjamaah yang lebih membutuhkan daripada warga fakir-miskin setempat, atau untuk kemaslahatan umat Islam, atau dari negara perang ke negara Islam, atau untuk para santri / pelajar, atau mengeluarkan zakat sebelum waktu wajibnya yaitu satu tahun. Maka dalam contoh di atas hukumnya tidak makruh. Syafi’iyah berkata: tidak boleh memindah zakat dari tempat yang ada fakir miskinnya ke tempat lain, bahkan wajib dibagikan ditempatnya setelah mencapai 1 tahun. Jika tidak ada fakir miskinnya maka dipindah ke tempat lain yang ada mustahiqnya. Ulama Malikiyah melarang memindahkan zakat ke tempat lain kecuali jika ada kebutuhan, maka yang mendistribusikan adalah pemerinta (lembaga yang sah) setelah dilakukan penelitian. Ulama Hanabilah juga melarang memindahkan zakat ke tempat lain yang melebihi radius jarak Qashar, tapi wajib diberikan kepada tempat yang ada mustahiqnya dan wilayah sekitarnya yang tidak melebihi jarak Qashar.
الفقه الإسلامي وأدلته الجزء الثالث ص٢٠ ٣
وقال الحنابلة: المذهب أنه لا يجوز نقل الصدقة من بلد مال الزكاة إلى بلدمسافة القصر، أي يحرم نقلها إلى مسافة القصر، ولكن تجزئه. ويجوز نقلها لأقل من مسافة القصر من البلد الذي فيه المال. والمستحب تفرقة الصدقة في بلدها، ثم الأقرب فالأقرب من القرى والبلدان
Mazhab Hambali juga menjelaskan tidak boleh memindahkan zakat dari daerah dikeluarkannya zakat itu ke daerah lain kecuali sejauh perjalanan yang diperbolehkan shalat qashar (89 km) dan wajib membagi zakat itu di daerah wajib zakat atau daerah yang berdekatan sampai sejauh kurang dari masafatulqasr.
HUKUM MEMINDAH ZAKAT KE DAERAH LAIN
Hukum memindahkan zakat terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama’. Dalam pendapat yang kuat dinyatakan hukum memindah zakat adalah HARAM dan MENYEBABKAN ZAKATNYA TIDAK SAH. Hanya saja menurut sebagian ulama’ diantaranya pendapat dari Ibn Ujail menyatakan boleh memindahkan zakat (zakatnya tetap sah). Namun demikian, perbedaan yang terjadi di kalangan ulama’ Madzhab Syafi’i pada dasarnya hanya pada kaitannya dengan SAH ATAU TIDAKNYA ZAKAT, Adapun dalam urusan keharaman memindah, maka yang demikian telah menjadi kesepakatan di kalangan ulama’ Syafi’iyah bahwa haram memindah zakat.
Dalam madzhan Hanafi sendiri, menyatakan bahwa hukum memindahkan zakat adalah MAKRUH DAN TETAP SAH dengan ketentuan tidak ada tujuan dalam memindahnya. Adapun jika ada tujuan seperti memberikan kepada kerabatnya yang berhak dan berada di luar daerahnya, maka hukumnya BOLEH (TIDAK MAKRUH).
Batasan pemindahan zakat adalah untuk zakat maal mendasarkan pada daerah tempat hartanya berada, sedangkan zakat fitrah daerah tempat orang yang dizakati berada ketika terbenamnya matahari malam hari raya. Adapun batas jarak yang diharamkan adalah sekiranya sampai pada batasan dimana seseorang diperbolehkan untuk melakukan rukhsoh (keringanan syari’at) seperti seorang musafir diperbolehkan untuk menjama’ atau mengqoshor shalatnya yaitu pada batasan keluar dari batas daerahnya (kota atau kabupaten) dengan skiranya sudah dianggap terputus dari daerahnya atau sudah tidak bisa mendengarkan panggilan adzan dari batas daerahnya. Adapun jika sekiranya seorang musafir masih tidak diperbolehkan untuk melakukan rukhsoh, maka tidak diharamkan memindahnya ke daerah itu, walaupun telah keluar dari batas daerahnya, yang berarti zakat dipindah ke daerah ini adalah SAH.
Referensi:
إعانة الطالبين – (ج 2 / ص 212)
وقال ابن حجر في شرح العباب: قال الائمة الثلاثة وكثيرون: يجوز صرفها إلى شخص واحد من الاصناف. قال ابن عجيل (1) اليمني ثلاث مسائل في الزكاة يفتى فيها على خلاف المذهب، نقل الزكاة، ودفع زكاة واحد إلى واحد، ودفعها إلى صنف واحد.
إعانة الطالبين – (ج 2 / ص 223)
(قوله: ولا يجوز لمالك نقل الزكاة) أي لخبر الصحيحين: صدقة تؤخذ من أغنيائهم، فترد على فقرائهم. ولامتداد أطماع مستحقي كل محل إلى ما فيه من الزكاة، والنقل بوحشهم، وبه فارقت الكفارة والنذر والوصية والوقف على الفقراء، ما لم ينص الواقف فيه على غير النقل، وإلا فيتبع. وخرج بالمالك، الامام، فيجوز له نقلها إلى محل عمله، لا خارجه، لان ولايته عامة، وله أن يأذن للمالك فيه. (قوله: عن بلد المال) أي عن محل المال الذي وجبت فيه الزكاة، وهو الذي كان فيه عند وجوبها. ويؤخذ من كون العبرة ببلد المال: أن العبرة في الدين ببلد المدين. لكن قال بعضهم: له صرف زكاته في أي محل شاء، لان ما في الذمة ليس له محل مخصوص، وهو المعتمد. وهذا في زكاة المال. أما زكاة الفطرة: فالعبرة فيها ببلد المؤدى عنه.
(قوله: ولو إلى مسافة قريبة) في حاشية الجمل ما نصه: (فرع) ما حد المسافة التي يمتنع نقل الزكاة إليها ؟ فيه تردد، والمتجه منه أن ضابطها في البلد ونحوه ما يجوز الترخص ببلوغه. ثم رأيت ابن حجر مشى على ذلك في فتاويه، فحاصله أنه يمتنع نقلها إلى مكان يجوز فيه القصر ويجوز إلى ما لا يجوز فيه القصر اه. وقوله: في فتاويه: مشى في التحفة على خلافه، ونصها مع الاصل: والاظهر منع نقل الزكاة عن محل المؤدى عنه إلى محل آخر به مستحق لتصرف إليه، ما لم يقرب منه، بأن ينسب إليه عرفا بحيث يعد معه بلدا واحدا، وإن خرج عن سوره وعمرانه. وقول الشيخ أبي حامد: لا يجوز لمن في البلد أن يدفع زكاته لمن هو خارج السور، لانه نقل للزكاة. فيه حرج شديد، فالوجه ما ذكرته، لانه ليس فيه إفراط ولا تفريط.
حواشي الشرواني – (ج 7 / ص 172)
قول المتن: (والاظهر منع نقل الزكاة) يفهم أن القولين في التحريم لكن الاصح أنهما في الاجزاء وأما التحريم فلا خلاف فيه اه.
مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج – (ج 11 / ص 480)
( وَالْأَظْهَرُ مَنْعُ نَقْلِ الزَّكَاةِ ) مِنْ بَلَدِ الْوُجُوبِ الَّذِي فِيهِ الْمُسْتَحِقُّونَ إلَى بَلَدٍ آخَرَ فِيهِ مُسْتَحِقُّوهَا فَتُصْرَفُ إلَيْهِمْ قَالُوا لِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ : { صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ } وَلِامْتِدَادِ أَطْمَاعِ أَصْنَافِ كُلِّ بَلْدَةٍ إلَى زَكَاةِ مَا فِيهِ مِنْ الْمَالِ وَالنَّقْلُ يُوحِشُهُمْ . وَالثَّانِي : الْجَوَازُ لِإِطْلَاقِ الْآيَةِ ، وَلَيْسَ فِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى عَدَمِ النَّقْلِ ، وَإِنَّمَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهَا لَا تُعْطَى لِكَافِرٍ كَمَا مَرَّ ، وَقِيَاسًا عَلَى نَقْلِ الْوَصِيَّةِ وَالْكَفَّارَاتِ وَالنَّذْرِ . وَأَجَابَ الْأَوَّلُ عَنْ الْقِيَاسِ بِأَنَّ الْأَطْمَاعَ لَا تَمْتَدُّ إلَى ذَلِكَ امْتِدَادَهَا إلَى الزَّكَاةِ . تَنْبِيهٌ : كَلَامُهُ يُفْهِمُ أَنَّ الْقَوْلَيْنِ فِي التَّحْرِيمِ ، لَكِنَّ الْأَصَحَّ أَنَّهُمَا فِي الْإِجْزَاءِ ، وَأَمَّا التَّحْرِيمُ فَلَا خِلَافَ فِيهِ
البحر الرائق شرح كنز الدقائق الحنفي – (ج 6 / ص 97)
( قَوْلُهُ وَكُرِهَ نَقْلُهَا إلَى بَلَدٍ آخَرَ لِغَيْرِ قَرِيبٍ وَأَحْوَجَ ) أَمَّا الصِّحَّةُ فَلِإِطْلَاقِ قَوْله تَعَالَى { إنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ } مِنْ غَيْرِ قَيْدٍ بِالْمَكَانِ ، وَأَمَّا حَدِيثُ مُعَاذٍ الْمَشْهُورُ { خُذْهَا مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَرُدَّهَا فِي فُقَرَائِهِمْ } فَلَا يَنْفِي الصِّحَّةَ ؛ لِأَنَّ الضَّمِيرَ رَاجِعٌ إلَى فُقَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ لَا إلَى أَهْلِ الْيَمَنِ ، أَوْ لِأَنَّهُ وَرَدَ لِبَيَانِ أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَا طَمَعَ لَهُ فِي الصَّدَقَاتِ وَلِأَنَّهُ صَحَّ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ لِأَهْلِ الْيَمَنِ { : ائْتُونِي بِخَمِيسٍ أَوْ لَبِيسٍ – وَهُمَا الصِّغَارُ مِنْ الثِّيَابِ – آخُذْهُ مِنْكُمْ فِي الصَّدَقَةِ مَكَانَ الشَّعِيرِ وَالذُّرَةِ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ } وَخَيْرٌ لِأَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنْ كَانَ فِي زَمَنِهِ فَهُوَ تَقْرِيرٌ ، وَإِنْ كَانَ فِي زَمَنِ أَبِي بَكْرٍ فَذَاكَ إجْمَاعٌ لِسُكُوتِهِمْ عَنْهُ ، وَعَدَمُ الْكَرَاهَةِ فِي نَقْلِهَا لِلْقَرِيبِ لِلْجَمْعِ بَيْنَ أَجْرَيْ الصَّدَقَةِ وَالصِّلَةِ وَلِلْأَحْوَجِ ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْهَا سَدُّ خَلَّةِ الْمُحْتَاجِ فَمَنْ كَانَ أَحْوَجَ كَانَ أَوْلَى ، وَلَيْسَ عَدَمُ الْكَرَاهَةِ مُنْحَصِرًا فِي هَاتَيْنِ ؛ لِأَنَّهُ لَوْ نَقَلَهَا إلَى فَقِيرٍ فِي بَلَدٍ آخَرَ أَوْرَعَ وَأَصْلَحَ كَمَا فَعَلَ مُعَاذٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَا يُكْرَهُ ؛ وَلِهَذَا قِيلَ : التَّصَدُّقُ عَلَى الْعَالِمِ الْفَقِيرِ أَفْضَلُ كَذَا فِي الْمِعْرَاجِ ، وَلَا يُكْرَهُ نَقْلُهَا فِي دَارِ الْحَرْبِ إلَى فُقَرَاءِ دَارِ الْإِسْلَامِ ؛ وَلِهَذَا ذُكِرَ فِي نَوَادِرِ الْمَبْسُوطِ رَجُلٌ مَكَثَ فِي دَارِ الْحَرْبِ سِنِينَ فَعَلَيْهِ زَكَاةُ مَالِهِ الَّذِي خَلَّفَ هَا هُنَا وَمَالٍ اسْتَفَادَهُ فِي دَارِ الْحَرْبِ لَكِنْ تُصْرَفُ زَكَاةُ الْكُلِّ إلَى فُقَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ الَّذِينَ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ ؛ لِأَنَّ فُقَرَاءَهُمْ أَفْضَلُ مِنْ فُقَرَاءِ دَارِ الْحَرْبِ ا هـ .
Selasa, 23 Mei 2017
SEKSI DAN SANTRI TERJERAT SARUNG
Diskripsi masalah
Di pondok kita, terdapat beberapa seksi kepengurusan, termasuk diantaranya adalah seksi kebersihan yang mana diantara tugas-tugasnya membersihkan dan merapikan tempat disekitar pondok, dan terkadang ketika ada ketertiban di komplek, tidak jarang ada sarung, baju dan lain sebagainya, yang di anggap tidak rapi di bersihkan dan di pindah di tempat khusus (angkring). Akan tetapi sebelumnya sudah ada pengumuman lebih dahulu dari seksi kebersihan yang mana lebih dari tiga hari (contoh) maka di angap halal.
Pertanyaan:
Bolehkah seksi kebersihan memindah barang-barang tersebut?Apa status barang yang sudah dipindah jika sudah lebih dari tiga hari, luqotoh (barang temuan) atau bukan?Apakah pengumuman tersebut sudah mencukupi hukum halal menurut pandangan fiqih?
Jawaban:
Dapat dibenarkan jika dalam rangka penertiban dan hanya untuk pengamanan (للحفظ) tidak sampai tamalluk.
Catatan:
- Karena Cuma bertujuan pengamanan, maka Pengurus tidak wajib mengumumkan (menurut Imam Nawawi, Imam Rofi’I dan mayoritas ulama).
- Jika pengurus berkehendak memiliki (tamalluk) maka penertiban tersebut harus ditindak lanjuti dengan berbagai prosedur yang diatur dalam bab luqothoh (memberikan pengumuman ditempat berkumpulnya manusia secara berkala)
Keterangan dari kitab:
كفاية الأخيار الجزء الثاني ص: 4
قال: (ثم إذا أراد تملكها عرفها سنة على أبواب المساجد وفي الموضع الذي وجدها فيه فإن لم يجد صاحبها كان له أن يتملكها بشرط الضمان) أخذ اللقطة إن قصد حفظها على مالكها لم يلزمه التعريف لأنه إنما يجب لأجل التملك ولا يملك عند إرادة الحفظوالحديث إنما ألزمه التعريف لأنه جعلها له بعده وهذا ما ذكره الأكثرون كما قال الرافعي والنووي وغيرهما وقيل يلزمه التعريف وصححه الإمام وغيره قال النووي : وهو الأقوى والمختار قاله في الروضة ومقتضاه أنه الصحيح لأن المختار في الروضة بمنزلة الراجح كما تقدم وإن أراد أن يتملكها عرفها سنة للحديث المتقدم والمعنى فيه : أن السنة لا تتأخر عن القوافل إذ الظفر بصاحبها قريب التوقع ثم إذا وجب التعريف فهل يجب على الفور أم يكفي تعريف سنة متى أراد ؟ وجهان : أصحهما لا يجب على الفور ويكون التعريف على أبواب المساجد عند خروج الناس منها وفي الأسواق لأنها مظان وجود مالكها فيها.
نهاية الزين ص: 297
وهي على أربعة أقسام أحدها ما يبقى على الدوام فيعرفه وجوبا سنة سواء أراد التملك أو قصد بأخذه الحفظ ويتأكد التعريف على أبواب المساجد عند خروجهم من الجماعات وفي الموضع الذي وجدها فيه والأسواق ومجامع الناس في بلد الالتقاط وما قرب منه فإن لم يجد صاحبه بعد أن عرفه بقصد التملك جاز له أن يتملكه باللفظ لاختيار قصد التملك كأن يقول تملكت هذا الرجعة ضامنا له فإن جاء صاحبه وهو باق ولم يتعلق به حق لازم تعين رده إليه
الفقه المنهجي الجزء الثالث ص: 256
وحمل العلماء قوله صلى الله عليه وسلم هذا على التقاطها للتملك وفي حال الغلبة الظن أن صاحبها سيعشر عليها لأن الغالب على أ صحاب الابل ونحوها إرسالها لترعى في صحراء بلا راع فالغالب أنها ليست بضائعة فلا ينبغي التقاطها ولذا اجازوا التقاطها للحفظ لا للتملك زمن الامن اي يلتقطها بقصد أن يحفظها على صاحبها لا ليتملكها ولو بعد تعريفها المدة المطلوبة.اهـ
2. Dengan melihat proses dan kasusnya maka status barang tersebut sbb:
- Dikatakan لقطة bila barang tersebut ditinggalkan oleh pemiliknya sebab lupa/tidur.
- Dikatakan مال ضائعbila barang tersebut sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya (tidak karena lupa/tidur)
catatan:
- لقطة adalah barang yang ditemukan pada tempat yang tidak semestinya dan pada tempat-tempat umum (فى غير حرز مثله / فى أرض غير مملوكة ) .
- مال ضائع adalah barang yang ditemukan pada tempat yang semestinya dan pada tempat-tempat tidak umum (فى حرز مثله / فى أرض مملوكة )
Keterangan dari kitab:
مغني المحتاج الجزء الثاني ص: 406
وشرعا: ما وجد في موضع غير مملوك من مال أو مختص ضائع من مالكه بسقوط أو غفلة ونحوها لغير حربي ليس بمحرز ولا ممتنع بقوته ولا يعرف الواجد مالكه فخرج بغير المملوك ما وجد في أرض مملوكة فإنه لمالك الأرض إن ادعاه وإلا فلمن ملك منه وهكذا حتى ينتهي إلى المحيي فإن لم يدعه فحينئذ يكون لقطة وبسقوط أو غفلة ما إذا ألقت الريح ثوبا في حجره مثلا أو ألقى في حجره هارب كيسا ولم يعرفه فهو مال ضائع يحفظه ولا يتملكه وفرقوا بينها وبين المال الضائع بأن الضائع ما يكون محرزا بحرز مثله كالموجود في مودع الحاكم وغيره من الأماكن المغلقة ولم يعرف مالكه واللقطة ما وجد ضائعا بغير حرز واشتراط الحرز فيه دونها إنما هو للغالب وإلا فمنه ما لا يكون محرزا كما مر في إلقاء الهارب ومنها ما يكون محرزا كما لو وجد درهما في أرض مملوكة أو في بيته ولا يدري أهو له أو لمن دخل بيته , فعليه كما قال القفال أن يعرفه لمن يدخل بيته
البجيرمى على الخطيب الجزء الثالث ص : 231
(وإذا وجد) أي الحر (لقطة في موات أو طريق) ولم يثق بأمانة نفسه في المستقبل وهو آمن في الحال خشية الضياع أو طرو الخيانة (فله أخذها) جوازا لأن خيانته لم تتحقق والأصل عدمها وعليه الاحتراز قوله (في موات) أي بدار الإسلام لا بدار الحرب فإن كان بدار الحرب فإنه غنيمة تخمس خمسها لأهله والباقي للملتقط ح ل قوله (أو طريق) ومنها الشارع لأنه الطريق النافذ في الأبنية كما مر ومثله المسجد والرباط والمدرسة لأنها أماكن مشتركة فلا يختص ما يوجد فيها بأحد وينبغي أن مثل ذلك ما كان مظنة لاجتماع الناس كالحمام والقهوة والمركب كما في ع ش على م ر
تحفة المحتاج شرح المنهاج الجزء الثالث ص:435
(ولو حمل السيل) أو نحو الهواء (بذرا) بمعجمة أي ما سيصير مبذورا ولو نواة أو حبة لم يعرض مالكها عنها (إلى أرض) لغير مالكه (فنبت فهو) أي النابت (لصاحب البذر) لأنه عين ماله وإن تحول لصفة أخرى فيجب على ذي الأرض فالحاكم رده إليه أي إعلامه به كما في الأمانة الشرعية أما ما أعرض مالكه عنه وهو ممن يصح إعراضه لا كسفيه فهو لذي الأرض إن قلنا بزوال ملك مالكه عنه بمجرد الإعراض (تنبيه) سيعلم مما يأتي قبيل الأضحية جواز أخذ ما يلقى مما يعرض عنه غالبا ويؤخذ منه أن ما هو كذلك يملكه مالك الأرض هنا وإن لم يتحقق إعراض المالك عنه وحينئذ فالشرط أن لا يعلم عدم إعراضه لا أن يعلم إعراضه خلافا لما يوهمه كلامهم هنا فتأمله
(قوله أما ما أعرض) إلى قوله إن قلنا في المغني إلا قوله لا كسفيه (قوله بمجرد الإعراض) وهو الراجح ا هـ ع ش (قوله ويؤخذ منه) أي من ذلك الجواز (قوله وحينئذ فالشرط إلخ) اعتمده م ر اهـ سم (قوله أن لا يعلم إلخ) قد يقال هذا يشمل ما يشك فيه هل هو مما يعرض عنه غالبا أو لا وفي ملكه نظر فالوجه أن الشرط علم الإعراض أو علم كون الموجود مما يعرض عنه غالبا مع الشك في الإعراض سم على حج ا هـ ع ش وقد يمنع دعوى الشمول بأن مرجع ضمير عدم إعراضه في الشرح قوله ما هو كذلك المشار به إلى قوله مما يعرض عنه غالبا قول المتن
الشرقاوى الجزء الثاني ص:153
وما ألقاه نحو ريح او هارب لا يعرفه بنحو داره أو حجره وودائع مات عنها مورثه ولا يعرف مالكها فإن ذلك ليس لقطة بل مال ضائع امره الى الإمام فيحفظه أو ثمنه إن رأى بيعه أو يقرضه لبيت المال الى ظهور مالكه إن توقعه والا صرف لمصارف بيت المال فإن لم يكن حاكم أو كان جائرا فلمن هو في يده أن تبصرف فيه بنفسه وله الأخذ من ذلك إن كان له استحقاق فى بيت المال وإذا ظهر مالكه وجب دفعه له ولو بعد سنين ولا رجوع عليه بنفقته ومثل ما تلقيه نحو الريح ما تلقيه البحار على السواحل من أموال الغرقي وما يوجد من الأمتعة والمصاغ فى عش الحدأة والغراب ولنحوهما فأمره لبيت المال كما استقر به ع ش وكذا حمل اثقله الحمل فتركه مالكها فى البرية فالامر فى ذلك لبيت المال ولا رجوع لمالكه بما انفق عليه إلا إذا أنفق بإذن الحاكم.
3. Di perinci sebagai berikut:
- Apabila dikategorikanمال ضائع maka apabila sudah tidak ada peluang untuk mengetahui pemiliknya, maka boleh memiliki jika ia termasuk orang-orang yang mempunyai hak atas baitul mal (مستحق بيت المال ).
- Dan ada sebagian ulama yang mengatakan langsung boleh dimiliki ketika dia yakin pemiliknya sudah tidak memperdulikannya (إعراض).
Catatan:
Menurut keterangan dalam kitab ihya santri termasuk orang-orang yang mempunyai hak atas baitul mal.
Keterangan dari kitab:
نهاية المحتاج في شرح المنهاج الجزء الخامس ص: 426
و ما القاه نحو ريح أو هارب لا يعرفه بنحو داره أو حجره وودائع مات عنها مورثه ولا يعرف مالكها مال ضائع لا لقطة , خلافا لما وقع في المجموع في الأولى أمره الى الإمام فيحفظه أو ثمنه إن راى بيعه أو يقرضه لبيت المال إلى ظهور المالكه إن توقعه وإلا صرف لمصارف بيت المال فإن لم يكن حاكم أو كان جائرا فلمن هي بيده ذلك كما مر نظيره ولو وجد لؤلؤ بالبحر خارج صدفه فلقطة قاله الماوردي لأنه لا يوجد خلقة في البحر إلا داخل صدفه وظاهر عدم الفرق بين المثقوب وغيره لكن قال الروياني في غير المثقوب إنه لواجده,ولو وجد قطعة عنبر في معدنه كالبحر وقربه,وسمكة أخدت منه فهو له,وإلا فلقطة وما أعرض عنه من حب في أرض الغير فنبت يملكه مالكها قاله جمع.ومن لقطة أن يبدل نعله بغيره فيأخدها ولا يحل له استعمالها إلا بعد تعريفه بشرطه او تحقق إعراض المالك عنها.
إحياء علوم الدين الجزء الثاني ص:138
وإنما النظر في الأموال الضائعة ومال المصالح فلا يجوز صرفه إلا إلى من فيه مصلحة عامة أو هو محتاج إليه عاجز عن الكسب فأما الغني الذي لا مصلحة فيه فلا يجوز صرف مال من بيت المال إليه هذا هو الصحيح وإن كان العلماء قد اختلفوا فيه وفي كلام عمر رضي الله تعالى عنه ما يدل على أن لكل مسلم حقا في بيت المال لكونه مسلما مكثرا جمع الإسلام ولكنه مع هذا ما كان يقسم المال على مسلمين كافة بل على منصوصين بصفات فإذا ثبت هذا فكل من يتولى أمرا يقوم به تتعدى مصلحته إلى مسلمين ولو اشتغل بالكسب لتعطل عليه ما هو فيه فله في بيت المال حق الكفاية و يدخل فيه العلماء كلهم أعني العلوم التي تتعلق بمصالح الدين من العلوم الفقه والحديس و التفسير والقرأة حتى يدخل فيه المعلمون والمؤذنون وطلبة هذه العلوم ايضا يدخلون قيه فإنهم إن لم يكفوا لم يتمكنوا من الطلب.
هامش الإفناع الجزء الثاني ص: 89
أما ما القاه الريح في دارك أو حجرك فليس لقطة بل مال ضائع وكذا ما حمله السيل إلى ارضك فإن أعرض عنه صاحبه كان ملكا لك لا لقطة وإن لم يعرض فهو لمالكه ويزاد ما وجد اي في غير مملوك وإلا فلمالكه.
- Apabila di kategorikan barang temuan (مال لقطة ), maka boleh dimiliki setelah diumumkan satu tahun dan ada tujuan untuk memiliki (تملك ) dengan sarat dhoman (mengganti rugi apabila sewaktu-waktu pemilik datang).
Keterangan dari kitab:
فتح القريب المجيب ص: 40
(وإذا أخذها) أي اللقطة (وجب عليه أن يعرف) في اللقطة عقب أخذها (ستة أشياء وعاءها) من جلد أو خرقة مثلا (وعفاصها) هو بمعنى الوعاء (ووكاءها) بالمد وهو الخيط الذي تربط به (وجنسها ) من ذهب أو فضة (وعددها ووزنها) ويعرف بفتح أوله وسكون الثانيه من معرفة لا من التعريف (و) أن (يحفظها) حتما (في حرز مثلها ثم) بعد ما ذكر (إذا أراد) الملتقط (تملكها عرفها) بتشديد الراء من التعريف لا من المعرفة (سنة على أبواب المساجد) عند خروج الناس من الجماعة (وفي المواضع الذي وجد ها فيه) وفي الأسواق ونحوها من مجامع الناس إلى أن قال… (فإن لم يجد صاحبها ) بعد تعريفها سنة (كان أن يتملكها بشرط الضمان) لها و لا يتملكها الملتقط بمجرد مضى السنة بل لابد من لفظ يدل عل التملك كتملكت هذه اللقطة فإن تملكها و ظهر مالكها وهي باقية واتفقا على رد عينها أو بدلها فالأمر فيه واضح وإن تنازعا فطلبها المالك وأراد الملتقط العدول إلى بدلها أجيب المالك في الأصح وأن تلفت اللقطة بعد تملكهما غرما الملتقط مثلها إن كانت مثلية أو قيمتها إن كانت متقومة يوم التملك لها وإن نقضت بعيب فله أخذها مع الإرش في الأصح.
JAMAAH (300 DZIRO’, JARAK PENGUKURAN DAN FADILAH JAMA'AH
Deskripsi Masalah
Disadari atau tidak, pemahaman kita tentang melakukan ibadah ternyata masih kurang, misalnya sholat berjamaah yang dalam kitab-kitab fiqh diterangkan:”bahwa jarak antara Imam dan Makmum ketika berada diluar masjid maksimal 300 dziro’ dan di saratkan tidak adanya khail (penghalang) diantara keduanya”, Fathul Qorib hal 16. Padahal dampak dari ketidak tahuan tersebut berpengaruh terhadap ibadah itu sendiri, misal tentang Makmum masbuq (Makmum yang tidak menemui takbirotul ikhrom Imam) dan penempatan shof jamaah (barisan jamaah), contoh kasus: seorang Makmum masbuq bisa mendapat rokaat jamaah apabila menemui aqollu ruku’il Imam (paling sedikitnya ruku’ Imam dengan kira-kira tuma’ninah/kira-kira waktu bacaan subhanalloh), akan tetapi timbul sebuah masalah apabila nanti yang ditemui bukan aqollu ruku’il Imam, tapi ruku’nya Makmum yang paling belakang (yang jadi penyambung/Robith) yang mana Imam sudah I’tidal, akan tetapi Makmum yang paling belakang masih ruku’ (seperti sholat Ied di makkah yang panjang barisan shofnya). Dan tentang sholat jamaah yang diketahui fadlilahnya (keutamaannya) sangat besar dibanding sholat sendirian, akan tetapi kadang kita tidak memperhatikan dalam sholat jamaah ada istilah مكروه من حيث الجماعة (makruh di tinjau dari sisi jamaah) yang mempunyai konsekwensi mengurangi fadlilah jamaah atau bahkan menghilangkan fadlilah jamaah, seperti penempatan shof yang tidak sesuai dengan aturan syariat, misal laki-laki dan perempuan berada pada shof yang sejajar (berdampingan) yang biasanya hanya di pisah oleh satir atau wanita berada diserambi (seperti praktek yang terlaku di masjid Pondok AL FATTAH, Pondok kita tercinta…)
Pertanyaan:
a. Sebenarnya bila di terjemahkan dalam bahasa Indonesia berapakah panjang 300 dziro’ dan dari manakah mulai pengukuran 300 dziro’ pada permasalahan diatas?
b. Apakah Makmum masbuq bisa mendapat satu rokaatnya Imam, apabila yang ia temui aqollu ruku’nya Makmum yang paling belakang?
c. Apakah penempatan shof seperti contoh di diskripsi di atas termasuk dalam (مكروه من حيث الجماعة) yang dapat menghapus/mengurangi fadlilah jama’ah ?
d. Apabila penempatan shof tersebut bisa menghapus fadlilah jamaah, bagaimana solusinya mengingat orang yang sholat berjamaah di masjid pasti ingin mendapat fadlilah jamaah dan supaya hal tersebut tidak terjadi terus menerus di masjid dan musholla?
Jawaban:
a. Karena terjadi khilaf tentang penentuan konfersi satu dziro’ ke centimeter, maka Panjang 300 dziro’ bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia antara 125,1 M. s/d 227,4 M. (menurut mayoritas ulama 144 M.) yang di ambil dari penghitungan versi kitab FATHUL QODIR hal: 3 dan 148 M menurut kitab Tanwirul Qulub.
VERSI FATHUL QODIR
1. الذراع الهاشمي اللمحراز من الماء مون
41,666625 Cm. = 125,1 M.
2. الذراع المعتدل عند النواوي
44,720000 Cm. = 134,1 M.
3. الذراع المعتدل عند الرافعي
44,820000 Cm. = 134,4 M.
4. الذراع المعتدل عند أحمد حسن المصري
44,012500 Cm. = 132 M.
5. الذراع المعتدل عند أكثر الناس
48,000000 Cm. = 144 M.
6. الذراع النيلى
54,000000 Cm. = 174 M.
7. الذراع البلدى بمصرى
65,00000 Cm. = 195 M.
8. الذراع العمارى
75,80000 Cm. = 227,4 M.
Sedangkan mulai pengukuran 300 dziro’ ada 6 klasifikasi, dengan 2 kesimpulan:
- Makmum diluar masjid dan Imam di masjid.,
- Makmum di masjid dan Imam diluar masjid.,
Maka penghitunganya mulai dari akhir masjid (menurut sebagian pendapat ulama di hitung dari akhir shof).
Dan apabila,
- Imam dan Makmum di tanah lapang.,
- Imam dan Makmum berada di dalam bangunan selain masjid.,
- Imam di tanah lapang dan Makmum di bangunan selain masjid.,
- Imam di bangunan selain masjid dan Makmum di tanah lapang.,
Maka penghitungannya sama saja yaitu antara Imam dan ma’mum langsung.
Catatan:
Kedua kesimpulan diatas tetap mensyaratkan tidak adanya penghalang antara Imam dan Makmum.
Keterangan dari kitab:
تنوير القلوب ص: 172
(الأول) أن تكون مسافته مرحلتين فأكثر بسير الأثقال وهما ستة عشر فرسخا. وهي ثمانية و أربعون ميلا. (والميل على ما صححه ابن عبد البر ثلاثة ألاف و خمسمائة ذراع. والذراع ثمانية و أربعون سنتيمترا وهو جزء من مائة من المتر المعروف الأن.
الفقه الإسلامي الجزء الأول ص: 117
المطلب الحادي عشر ـ جدول المقاييس 1 – وحدات الأطوال: القَصَبة: (6 أذرع أو 696،3 م)(متراً) (2). الجريب: (100 قصبة أو 3600) ذراعاً هاشمياً أو قدماً مربعاً أو ياردة مربعة، (أو0416،1366 م2) (متر مربع)، والقدم: (4،30 سم)، واليارد الحالي: (43،91سم). الذراع الهاشمي: (32) إصبعاً أو قيراطاً، والإصبع: (925،1) سم (سنتيمتر). الذراع المصري العتيق (3): (2،46)سم. الذراع المقصود فقهاً هو الهاشمي: (2،61)سم.
سلم التوفيق ص: 35-36
(و) ثالثها (أن يجتمعا) أي الإمام و المأموم (في مسجد) إلخ… إلى أن قال… فالحاصل أن الأحوال سبعة فأحوال المسجد ثلاثة لأنه إما أن يكونا في مسجد أو لإمام في المسجد والمأموم خارجه أو بالعكس وأحوال غيره أربعة لأنه إما أن يكونا في فضاء أو في بناء أو الإمام في الفضاء والمأموم في البناء أو بالعكس فإن هذه الأربعة حكمها واحد.
قليوبي وعميرة الجزء الأول ص: 279 ج د
(ولو وقف في موات وإمامه في مسجد) اتصل به الموات. (فإن لم يحل شيء) بين الإمام والمأموم. (فالشرط التقارب) أي أن لا يزيد على ثلاثمائة ذراع كما في الفضاء (معتبرا من آخر المسجد) لأنه محل الصلاة فلا يدخل في الحد الفاصل. (وقيل: من آخر صف) فيه فإن لم يكن فيه إلا الإمام فمن موقفه. قوله:(في موات وإمامه في مسجد) وكذا عكسه كما في نسخة, وبذلك تتمم الأحوال الأربعة, والمراد بالموات هنا: ما ليس مسجدا خالصا وفي نسبة الاتصال للموات اعتبار تأخيره عن المسجد فهو أولى من عكسه, ويجري ما ذكر فيما لو وقفا في مسجدين بينهما موات أو شارع أو نهر ليست أرضه مسجدا كما مر. قوله:(فإن لم يحل شيء) أي مما يمنع المرور أو الرؤية. قول المتن: (وقيل: من آخر صف) أي نظرا إلى أن الاتصال مراعى بينه وبين الإمام لا بينه وبين المسجد. (تنبيه) لو كان المأموم في المسجد والإمام خارجه, فالاعتبار من آخر المسجد أيضا لا من موقف المأموم نبه عليه الإمام رحمه الله.
الباجوري على ابن قاسم الجزء الأول ص: 200
(قوله: أي الإمام) لو جعل الضمير راجعا للمسجد كما صنعه غيره كالشيخ الخطيب لكان أولى و أحسن وكان يستغنى عن قوله الأتي وتعتبر المسافة المذكور أخر المسجد (قوله بأن لم تزد الخ) تصوير لكونه قريبا وإذا كثرت الصفوف أوالأشخاص فالشرط أن لايزيد ما بين كل صفين أو شخصين على ثلاثمائة ذراع تقريبا وإن صار بين الأخير وأخر المسجد فراسخ لكن مع العلم بانتقالات الإمام كما هو معلوم (قوله مسافة ما بينهما) أي الإمام والمأموم على مقتضى أول كلامه وإن كانت المسافة معتبرة في الحقيقة بين أخر المسجد والمأموم كما سيذكر ه الشارح (قوله على ثلاثمائة ذراع تقريبا) فلا تضر زيادة ثلاثة أذرع أو أقل لأن المسافة تقريبية لاتحديدية (قوله وهو أي المأموم عالم بصلاته) أي الإمام أي بأحد الأمور المتقدمة كالرؤية للإمام أو لبعض صف وكسماع صوته أو صوت مبلغ.
فتح القريب ص: 16
(و إن صلى) الإمام (في المسجد والمأموم خارج المسجد) حال كونه (قريبا منه) أي الإمام بأن لم تزد مسافة ما بينهما على ثلاثمائة ذراع تقريبا (وهو) أي المأموم (عالم بصلاته) أي الإمام (و لاحائل هناك) أي بين الإمام و المأموم (جاز) الإقتداء و تعتبر المسافة المذكورة من أخر المسجد إن كان الإمام والمأموم في غير المسجد أمافضاء أو بناء فالشرط أن لا يزيد بينهما على ثلاثمائة ذراع وأن لا يكون بينهما حائل.
شرخ البهجة الجزء الأول ص: 422 ج د
والحاصل أن اجتماعهما شرط لصحة الاقتداء لما مر, وأن أحواله أربعة: أحدها أن يجمعهما مسجد, وإن تباعدا إلى أن قال… ثانيها: أن يجمعهما في منبسط ثلاثمائة ذراع فأقل تقريبا, فلا يضر زيادة ثلاثة أذرع كما في التهذيب, ولا بلوغ ما بين الإمام والصف الأخير فراسخ, وهذا التقييد مأخوذ من العرف وقيل: مما بين الصفين في صلاة الخوف, إذ سهام العرب لا تجاوز ذلك, ثالثها: أن يجمعهما بناءان في غير مسجد, بأن يقف أحدهما في بناء والآخر في آخر كصحن وصفة, فإن وقف المأموم بجنب الإمام فالشرط اتصال المناكب بعضها ببعض بين البناءين, بحيث لا يخلو بينهما فرجة لتحصل رابطة الاجتماع, وإلا فاختلاف البناء يوجب الافتراق, ولا تضر فرجة لا تسع واقفا, ومثلها عتبة بينهما تتعذر الصلاة عليها, وإن وقف خلفه فالشرط أن لا يزيد ما بينهما على ثلاثة أذرع تقريبا, إذ لا يمكن اتصال المناكب فاغتفر ذلك للحاجة, فلو زاد ما لا يتبين في الحس بلا ذرع لم يضر, وإذا صح اقتداء من في البناء الآخر صح اقتداء من خلفه تبعا له, ولا يضر الحائل عن الإمام, وهم معه كهو مع الإمام حتى يضر تقديمهم عليه في الإحرام والموقف لكن لو أحدث أو زال عن موقفه قال البغوي لم تبطل صلاتهم إذ يغتفر في الدوام ما لا يغتفر في الابتداء, إلى أن قال… رابعها: أن يجمعهما مسجد وغيره.
b. Apakah Makmum masbuq bisa mendapat satu rokaatnya Imam, apabila yang ia temui aqollu ruku’nya Makmum yang paling belakang (Robith)?
Jawaban:
Musyawirin masih belum menemukan Ibarat yang shorih tentang Makmum masbuq mendapat 1 roka’at dalam jamaah akan tetapi menurut Ibarat yang ada dan sebatas pemahaman, bahwa Robith bisa menggantikan kedudukan Imam, maka Makmum masbuq sudah bisa mendapat 1 roka’at dalam jamaah.
Catatan:
Dalam merumuskan Makmum masbuq mendapat 1 rokaat, musyawirin berpegangan pada dua akar masalah:
1. Pengertian Robith versi Imam Qulyubi: “Robith seperti Imam kalau dipandang dari Makmum di belakang Robith, sehingga di syaratkan Makmum tidak boleh mendahului tempat, takbirotul ihrom Robith dan Robith haruslah orang yang sah menjadi Imam serta gerakan Makmum tidak boleh beda dengan gerakan Robith. Sehingga apabila Robith tertinggal jauh dari Imam (lebih dari tiga rukun yang panjang) Makmum tetap wajib mengikuti…”.
2. Pada kasus Imam di dalam masjid, Makmum diluar masjid dan antara keduanya ada waqif/Robith sedangkan pandangan Makmum bisa tertuju pada Imam, namun antara Imam dan Makmum terhalang sesuatu (ada Khail), maka apabila terjadi perbedaan gerakan antara Imam dan Robith, apakah Makmum yang di belakang Robith mengikuti Imam atau mengikuti Robith? terjadi perbedaan pendapat antar ulama:
- Wajib mengikuti Robith, karena posisinya sebagai pengganti Imam,
- Wajib mengikuti Imam, karena Robith bukanlah Imam hakiki. Wallohu A’lam.
Keterangan dari kitab:
البجيرمى على الخطيب الجزء الثانى ص: 131
أما الباب المفتوح فيجوز اقتداء الواقف بحذائه والصف المتصل به وإن خرجوا عن المحاذاة
قوله:(الواقف بحذائه) أي مقابله يشاهد الإمام أو من معه, ويقال لهذا رابطة لأهل الصف الذي عن يمينه أو يساره وكذا من خلفهم من الصفوف, وهو كالإمام بالنسبة لهم فيشترط أن لا يتقدموا عليه فى الموقف ولا في الإحرام وأن يكون تصح إمامته لهم وأن لا يخالفوه في أفعاله وإن خالفوا الإمام حتى لو كان بطيء القراءة وتأخر بثلاثة أركان طويلة وجب عليهم التأخير بها معه. وأن يعينوه لو تعدد, وأن لا ينتقلوا من الرابطة إلى الربط بغيره في صلاتهم, وإذا بطلت صلاته تابعوا الإمام الأصلي إن علموا بانتقالاته وإلا وجب عليهم نية المفارقة ا هـ ق ل
تحفة المحتاج الجزء الثاني ص: 317 ج د
(وإن كان الواقف) خلف بناء الإمام فالصحيح صحة القدوة بشرط أن لا يكون بين الصفين المصلي أحدهما ببناء الإمام, والآخر ببناء المأموم أي بين آخر واقف ببناء الإمام وأول واقف ببناء المأموم (أكثر من ثلاثة أذرع) تقريبا, لأن الثلاثة لا تخل بالاتصال العرفي في الخلف بخلاف ما زاد عليها (والطريق الثاني لا يشترط إلا القرب) في سائر الأحوال السابقة بأن لا يزيد ما بينهما على ثلثمائة ذراع (كالفضاء) أي قياسا عليه, لأن المدار على العرف وهو لا يختلف فمنشأ الخلاف العرف كما هو ظاهر, وإنما يكتفي بالقرب على هذا (إن لم يكن حائل) بأن كان يرى الإمام أو بعض المقتدين به ويمكنه الذهاب إليه لو أراده بوجوده مع الاستقبال من غير ازورار ولا انعطاف بقيده الآتي في أبي قبيس (أو حال) بينهما حائل فيه (باب نافذ) وقف مقابله واحد أو أكثر يراه المقتدي ويمكنه الذهاب إليه كما ذكرناه وهذا الواقف بإزاء المنفذ كالإمام بالنسبة لمن خلفه فلا يتقدموا عليه بالإحرام, والموقف فيضر أحدهما دون التقدم بالأفعال, لأنه ليس بإمام حقيقة ومن ثم اتجه جواز كونه امرأة, وإن كان من خلفه رجالا ولا يضر زوال هذه الرابطة أثناء الصلاة فيتمونها خلف الإمام إن علموا بانتقالاته, لأنه يغتفر في الدوام ما لا يغتفر في الابتداء وبما قررته في حال الدال عليه مقابلته بقوله الآتي أو جدار اندفع اعتراضه بأن النافذ ليس بحائل ثم رأيت شارحا ذكر ذلك أيضا أخذا من إشارة الشارح إليه.
(قوله: دون التقدم بالأفعال) قال في شرح الإرشاد على الأوجه خلافا للمصنف. ا هـ. وعلى ما قاله ابن المقري فلو تعارض متابعة الإمام والرابطة بأن اختلف فعلاهما تقدما وتأخرا فهل يراعي الإمام أو الرابطة فيه نظر, فإن قلنا يراعي الإمام دل ذلك على عدم ضرر التقدم على الرابطة أو يراعي الرابطة لزم عدم ضرر التقدم على الإمام وهو لا يصح أو يراعيهما إلا إذا اختلفا فيراعي الإمام أو إلا إذا اختلفا فالقياس وجوب المفارقة فلا يخفى عدم اتجاهه وقد يؤخذ من توقفه وجوب المفارقة وجواز التأخر عن الإمام دون ما عداهما أن الأقرب عنده مراعاة الإمام فيتابعه ولا يضر تقدمه على الرابطة ورأيت الجزم به بخط بعض الفضلاء قال: لأن الإمام هو المقتدى به فليتأمل. ا هـ. شيخنا ع ش وفي شرح العباب بعد أن رد القول باعتبار عدم التقدم عليه في الأفعال أن بعضهم نقل عن بحث الأذرعي أنهم لا يسلمون قبله ثم نظر فيه أيضا لمنع سلامهم قبله لانقطاع القدوة بسلام الإمام ويلزم من انقطاعها سقوط حكم الربط لصيرورتهم منفردين فلا محذور في سلامهم قبله وقوله ولا يضر زوال هذه الرابطة أثناء الصلاة إلخ قال في شرح العباب وما تقرر يأتي فيما لو زالت الصفوف بين الصف الأخير, والإمام وما بينهما فوق ثلثمائة ذراع ورجح الأذرعي أنه لو بني بين الإمام, والمأموم حائل في أثناء الصلاة يمنع الاستطراق والمشاهدة لم يضر, وإن اقتضى إطلاق المنهاج وغيره خلافه وظاهر مما مر أن محله ما إذا لم يكن البناء بأمره انتهى وهل يشترط في مسألة الصفوف أن لا يتقدم كل صف بينه وبين الإمام أكثر من ثلثمائة ذراع على الصف الذي أمامه في الأفعال على ما مر كما في الرابطة بجامع توقف صحة الاقتداء عليه فيه نظر ولعل الأوجه الاشتراط وقوله ورجح الأذرعي إلخ قد يدل له أنه لا يضر ارتداد الباب في الأثناء فليتأمل
حاشية الجمل على المنهج الجزء الأول ص: 554
(فيصح اقتداء من خلفه أو بجانبه) وإن حيل بينه وبين الإمام ويكون ذلك كالإمام لمن خلفه أو بجانبه لا يجوز تقدمه عليه كما لا يجوز تقدمه على الإمام.
(قوله ويكون ذلك كالإمام إلخ) عبارة شرح م ر, وهذا الواقف بإزاء المنفذ كالإمام بالنسبة لمن خلفه لا يحرمون قبله, ولا يركعون قبل ركوعه, ولا يسلمون قبل سلامه, ولا يتقدم المقتدي عليه, وإن كان متأخرا عن الإمام, ويؤخذ من جعله كالإمام أنه يشترط فيه أن يكون ممن يصح الاقتداء به, وهو كذلك فيما يظهر, ولم أر فيه شيئا. ولا يضر زوال هذه الرابطة في أثناء الصلاة فيتمونها خلف الإمام حيث علموا بانتقالاته لأنه يغتفر في الدوام ما لا يغتفر في الابتداء, ونقل الإسنوي عن فتاوى البغوي أنه لو كان الباب مفتوحا وقت الإحرام فرده الريح في أثناء الصلاة لم يضر ا هـ. وهو الأوجه انتهت, ومعلوم أن كلامه في الشارح مقدم على كلامه في غيره فلا عبرة بما نقله عنه سم من ضرر رد الباب في الأثناء ا هـ. ع ش عليه, وقوله أي م ر, وهو الأوجه ظاهره, وإن تمكنوا من فتحه حالا, ولم يفعلوا ا هـ. ا ط ف, وكتب ع ش على عبارة م ر ما نصه قوله, ويكون ذلك كالإمام, ومع ذلك لو سمع قنوت الرابطة لا يؤمن عليه لأن العبرة في ذلك بالإمام الأصلي, وقضيته أنه تكره مساواته, ونظر فيه سم على حجر, واستقرب شيخنا العلامة الشوبري عدم الكراهة, وهو ظاهر, ويحتمل كراهة المساواة لتنزيلهم الرابطة منزلة الإمام في عدم التقدم عليه في الأفعال. وكتب أيضا قوله ولا يسلمون قبل سلامه عمومه شامل لما لو بقي على الرابطة شيء من صلاته كأن علم في آخر صلاته أنه كان يسجد على طرف عمامته مثلا فقام ليأتي بما عليه فيجب على من خلفه انتظار سلامه, وهو بعيد بل امتناع سلام من خلفه قبل سلامه مشكل, ومن ثم قال سم على حج قال في شرح العباب إن بعضهم نكل عن بحث الأذرعي إنهم لا يسلمون قبله ثم نظر فيه أيضا بمنع سلامهم قبله لانقطاع القدوة بسلام الإمام, ويلزم من انقطاعها سقوط حكم الربط لصيرورتهم منفردين فلا محذور في سلامهم قبله ا هـ. وكتب أيضا قوله ولا يتقدم المقتدي إلخ قال ابن قاسم على حج قوله دون التقدم في الأفعال إلخ, وعلى ما قاله ابن المقري فلو تعارض متابعة الإمام والرابطة بأن اختلف فعلاهما تقدما وتأخرا فهل يراعى الإمام أو الرابطة ؟ فيه نظر فإن قلنا يراعى الإمام دل ذلك على عدم ضرر التقدم على الرابطة أو يراعى الرابطة لزم عدم ضرر التأخر عن الإمام, وهو لا يصح أو يراعيهما إلا إذا اختلفا فيراعى الإمام أو إلا إذا اختلفا فالقياس وجوب المفارقة, ولا يخفى عدم اتجاهه. ا هـ. وقد يؤخذ من توقفه في وجوب المفارقة, وجواز التأخر عن الإمام دون ما عداها أن الأقرب عنده مراعاة الإمام فيتبعه, ولا يضر تقدمه على الرابطة, ورأيت الجزم به بخط بعض الفضلاء قال لأن الإمام هو المقتدى به فتأمل قال سم على حج, ولو تعددت الرابطة, وقصد الارتباط بالجميع فهل يمتنع كالإمام مال م ر للمنع, ويظهر خلافه, وقد يدل قوله فلا يتقدم عليه إلخ بعد قوله واحدا أو أكثر على امتناع تقديمهم فيما ذكر على الأكثر, والظاهر وهو الوجه أنه غير مراد بل يكفي انتفاء التقدم المذكور بالنسبة لواحد من الواقفين لأنه لو لم يوجد إلا هو كفى مراعاته ا هـ. وكتب أيضا قوله وهو كذلك فيما يظهر أي خلافا لحج رحمه الله تعالى, وعبارته ومن ثم اتجه جواز كونه امرأة, وإن كان من خلفه رجالا انتهت, ولعل قوله ولم أر فيه شيئا أنه لم ير فيه نقلا لبعض المتقدمين ا هـ. وفي ق ل على الجلال فيشترط كونه ممن يصح اقتداء من خلفه به بخلاف أنثى لذكور أو أمي لقارئ ا هـ. (قوله كالإمام لمن خلفه إلخ) ولا يجب على من خلفه أو بجانبه نية الربط به, ولو تعدد الواقف اكتفى بانتفاء التقدم على واحد منهم, ولو تقدم الرابطة على الإمام في الفعل لم يلتفت إليه, ولا يضر زوال هذه الرابطة في أثناء الصلاة فيتمونها خلف الإمام حيث علموا بانتقالاته لأنه يغتفر في الدوام, وكذا لو ردت الريح الباب, وعلموا بانتقالات الإمام لأنه لا تقصير منه بخلاف ما لو رد الباب أو أزال الرابطة بفعله فإنه يضر, وعدم إحكامه فتحه لا يعد تقصيرا, وقول البغوي لو رد الباب ريح فإن أمكنه فتحه حالا صحت, ودام على المتابعة, وإلا فارقه محمول على ما إذا لم يعلم بانتقالات الإمام عند رده, والمعتمد أنه لا يضر إلا إذا كان بفعله بخلاف فعل غيره, وإن قدر على منعه, وعلى قياس زوال الرابطة أن الصفوف بين الإمام والصف الأخير لو زالت, وصار بينهما فوق ثلاثمائة ذراع لم يضر ا هـ. ح ل. (فرع) لو نوى مفارقة الرابطة هل يؤثر أو لا قال الشيخ فيه نظر, ومال م ر إلى تأثير ذلك, والذي يظهر أنه لا يؤثر ا هـ. شوبري (قوله لمن خلفه) متعلق بمحذوف صرح به م ر أي بالنسبة لمن خلفه (قوله لا يجوز تقدمه عليه) أي في الزمان والمكان والأفعال فلا يركعون قبل ركوعه, وظاهره, وإن كان بطيء الحركة ا هـ. ح ل, وأما المساواة فالظاهر أنها مطلوبة ا هـ. برماوي.
توشيح على ابن قاسم ص: 72
(بصلاة الإمام فيه أي في المسجد وهو أو المأموم عالم بصلاته أي الإمام بمشاهدة بعض صف) من المتقدمين به أو واحد منهم وإن لم يكن في صف أو بسماع صوت الإمام أو صوت مبلغ عدل رواية بأن يكون بالغا عاقلا ولو عبدا أو أنثى وإن لم يكن مصليا وكذا الصبي المأموم والفاسق إذا اعتقد صدقه (أجزأه وكفاه ذلك) أي ربط الصلاة بصلاة الإمام وهو عالم بها (في صحة الإقتداء به) إجماعا وإن بعدت المسافة وحالت الأبنية النافذة إلى المسجد أو إلى سطحه نفوذا يمكن الإستطراق منه عادة ولو بإزورار وانعطاف أغلق أبوابه أولا.
c. Apakah penempatan shof seperti contoh di diskripsi di atas termasuk dalam (مكروه من حيث الجماعة) yang dapat menghapus/mengurangi fadlilah jama’ah ?
Jawaban:
Terjadi perbedaan pendapat antara para ulama:
Imam Ibnu Hajar: Dapat menghapus fadhilah jamaah secara keseluruhan.
Imam Romli: Hanya menghapus pahala yang berkaitan dengan shof/penataan barisan saja (tidak kesemuanya fadhilah jamaah hilang).
Keterangan dari kitab:
حاشية الجمل الجزء الأول ص: 544
(قوله أيضا، وأن يقف خلفه رجال إلخ) وأفضل صفوف الرجال الخلص أولها ثم الذي يليه, وهكذا, وأفضل كل صف يمينه, وإن كان الثاني, ومن باليسار يسمع الإمام, ويرى أفعاله خلافا لبعضهم حيث ذهب إلى إنه أفضل حينئذ من الأول, ومن اليمين الخالي من ذلك معللا له بأن الفضيلة المتعلقة بذات العبادة مقدمة على المتعلقة بمكانها, ويرده أن في كل من الصف الأول, ومن جهة اليمين من صلاة الله وملائكته على أهلهما ما يفوق سماع القراءة وغيره, ولما في الأول أخذا مما مر من توفر الخشوع ما ليس في الثاني لاشتغالهم عن إمامهم, والخشوع روح الصلاة فيفوق سماع القراءة, وغيره أيضا فما فيه متعلق بذات العبادة أيضا, ويسن سد فرج الصفوف, وأن لا يشرع في صف حتى يتم الأول, وأن يفسح لمن يريده, وجميع ذلك سنة لا شرط فلو خالفوا صحت صلاتهم مع الكراهة.…وقوله وأفضل صفوف الرجال إلخ, وأما صفوف النساء فأفضلها آخرها لبعده عن الرجال, وإن لم يكن فيهم رجل غير الإمام سواء كن إناثا فقط أو خناثى فقط أو البعض من هؤلاء, والبعض من هؤلاء فالأخير من الخناثى أفضلهم, والأخير من النساء أفضلهن, وقوله صحت صلاتهم مع الكراهة أي ومقتضى الكراهة فوات فضيلة الجماعة كما يصرح به قوله قبل, ويجري ذلك في كل مكروه من حيث الجماعة المطلوبة
حاشية الجمل الجزء الأول ص: 545
(فرع) لو لم يحضر الرجال حتى اصطف النساء خلف الإمام, وأحرمن هل يؤخرون بعد الإحرام ليتقدم الرجال أو لا فيه نظر, ويظهر الثاني وفاقا ل م ر ثم رأيت في شرح العباب لشيخنا عن القاضي ما يفيد خلافه ا هـ.سم على المنهج أقول, والأقرب الأول حيث لم يترتب على تأخرهن أفعال مبطلة ا هـ
الترمسي الجزء الثالث ص: 62
ومتى خولف الترتيب المذكور كره وكذا كل مندوب يتعلق بالموقف فانه يكره مخالفته وتفوت به فضيلة الجماعة.
(قوله كره)أي مع صحة الصلاة بذلك لأنه ليس بشرط لها (قوله ومتى خولف الترتيب المذكور) أي من تقديم الرجال ثم الصبيان ثم الخناثى ثم النساء كأن يتقدم الصبيان على الرجال مع حضورهم دفعة أو الخناثى عليهم مطلقا (قوله فضيلة الجماعة) أي المختصة بتلك السنة بل أفتى الشهاب الرملي في ما إذا وقف صف قبل إتمام ما أمامه بعدم فوات الفضيلة بالوقوف المذكور وفي ابن عبد الحق ما يوافقه حيث قال لاتفوت فضيلة الجماعة بذلك وإن فاتت فضيلة الصف وكذا وافقه جمع من المتأخرين قال ع ش وعليه فيكون هذا مستثنى من قوله مخالفة السنن المطلوبة في الصلاة من حيث الجماعة مكروهة مفوتة للفضيلة فليتأمل. إهــ
إعانة الطالبين الجزء الثاني ص: 125
(قوله: وكل هذه) أي وكل واحدة من هذه الصور، وهي الإنفراد عن الصف، والشروع في صف قبل إتمام ما قبله، ووقوف الذكر الفرد عن يساره أو وراءه أو محاذيا له أو متأخرا كثيرا.(قوله: تفوت فضيلة الجماعة) أي التي هي سبع وعشرون درجة، أو خمس وعشرون.ولا تغفل عما سبق لك من أن المراد فوات ذلك الجزء الذي حصل فيه ذلك المكروه، لا في كل الصلاة.
(قوله: ويسن أن لا يزيد إلخ) فلو زيد على ذلك كره للداخلين أن يصطفوا مع المتأخرين، فإن فعلوا لم يحصلوا فضيلة الجماعة، أخذا من قول القاضي: لو كان بين الامام ومن خلفه أكثر من ثلاثة أذرع فقد ضيعوا حقوقهم، فللداخلين الاصطفاف بينهما، وإلا كره لهم.
d. Apabila penempatan shof tersebut bisa menghapus fadlilah jamaah, bagaimana solusinya mengingat orang yang sholat berjamaah di masjid pasti ingin mendapat fadlilah jamaah dan supaya hal tersebut tidak terjadi terus menerus di masjid dan musholla?
Jawaban:
Solusinya mengikuti pendapat Imam Romli yg hanya menghapus Fadlilah shof saja/penataan barisan saja (tidak keseluruhannya hilang).
Keterangan dari kitab:
Ibarat idem dengan sub c
Wallohu a’lam
Langganan:
Postingan (Atom)